Jumat, 22 November 2013

Peristiwa Penculikan PM Sjahrir 27 Juni 1946


Peristiwa Penculikan PM Sjahrir
 27 Juni 1946





Makalah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Disusun oleh:
Abdul Amin/1206206272







ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2013




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Paska proklamasi kemerdekaan yang terdengar di Tanah Air 1945, para pemimpin Indonesia harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini, ada dua perbedaan mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi Belanda dan Sekutu, juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Karena menurutnya Bangsa Indonesia yang baru merdeka belum terlalu kuat untuk melawan Sekutu dan Belanda Di lain pihak, bagi Tan Malaka dan kelompok Persatuan Perjuangan, perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan. Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan seratus persen,  menurutnya perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan seratus persen dari Belanda dan Sekutu, tanpa itu nonsense.[1]
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka selama musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.
Ketegangan dua kubu elit ini akhirnya menuai permasalahan dalam negeri, terutama pemberontakan terus disiapkan dan dilakukan oleh kelompok Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan terhadap kepemimpinan Sjahrir dan dan pemerintah Indonesia. Sehingga terjadilah beberapa peristiwa yang terjadi akibat pertentangan tersebuat, diantaranya penculikan PM Sjahrir oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang menentang politik dimplomasinya.

1.2  Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1        Bagaimanakah proses penculikan PM Sjahrir oleh kelompok Persatuan Perjuangan?
1.2.2        Bagaimanakah reaksi dari pemerintah atas peristiwa penculikan PM Sjahrir?
1.2.3        Bagaimanakah  proses menuju PM Sjahrir dibebaskan?
1.3  Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana konflik pemikiran antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata, berdampak kepada ketidakpuasan kelompok Persatuan Perjuangan terhadap PM Sjahrir selaku pemimpin Diplomasi. Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk mempertahankan kemerdekaan.

1.4  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia, seperti kelompok Tan Malaka yang tidak suka dengan metode diplomasi yang diemban oleh pemerintah dan PM Sjahrir. Hal itulah yang memunculkan rangkaian konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.

1.5  Metode Penelitian
Dalam proses pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah, tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI, Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
            Setelah melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah. Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang mendukung dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan isi yang mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga, yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut, masing-masing dari kami memberikan review tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
            Terakhir adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.


BAB II
ISI

2.1 Penculikan PM Sjahrir
            Sekitar pada bulan Juni 1946 PM Sjahrir beserta rombongannya melakukan kunjungan ke Jawa Timur, dan menginap di Solo selama satu malam. Kemudian pada hari berikutnya hendak melakukan perjalanan ke Yogyakarta, untuk siding kabinet yang membahas masalah usul balasan dan dan masalah kabinet koalisi.
            Penculikan Sjahrir digalang oleh Mayor AK Yusuf, ia mengajak Jendral Sutarto yang kemudian dengan cepat menerima ajakan Yusuf, karena satu sisi Yusuf telah membawa perintah tertulis penangkapan PM Sjahrir dari koleganya yaitu Komandan Sudarsono.
Kemudian Sutarto meminta para agen kelompoknya menandatangani perintah penangkapan atas Sjahrir dan kelompoknya, seperti kawannya Sastrolawe, Komandan Batalyon di Tawangmangu, PT Solo dan lain sebagainya. Sehingga para pengawal Sjahrir yakin jika tindakan rombongan Yusuf ini tidak melanggar hukum. Sementara itu Domopranoto yang kala itu menjabat sebagai kepala polisi Solo melontarkan pertanyaan kepada Sutarto, apakah Soedirman dan Soekarno mengetahui tentang hal ini, Domopranoto juga menasehati mereka agar menghadap dulu kepada atasan mereka. Kelompok Sutarto ini mejawab apakah kamu tidak percaya kepada kami, ini adalah sebuah pekerjaan resmi. Akhirnya penangkapan ini mendapatkan persetujuan dari Domopranoto.
            Dengan bekal surat tersebut, ternyata penculikan terhadap PM Sjahrir merupakan hal yang gampang,. Pada jam satu malam di tempat Sjahrir bermalam, Yusuf, Sastrolawe dan para Tentara dari Tawangmangu datang, Polisi yang mengawal PM Sjahrir tidak mampu melawan karena melihat surat perintah penangkapan yang telah mereka perlihatkan.
            Yusuf dan kelompoknya langsung masuk ke kamar tidur Sjahrir. Sastrolawe yang pertama masuk dan berkata “Ada saudara dari Yogya yang ingin menyapa”, lalu Yusuf maju dan serentak Sjahrir bertanya “Ada apa?  Dan Yusuf menjawab, “Saudara mesti saya tangkap , sambil diperlihatkan surat perintah”, kemudia Sjahrir menjawab “bagaimana ini, saya masih dibutuhkan oleh rakyat”. Namun akhirnya Sjahrir dibawa tanpa tekanan, paksaan dan kekerasan sedikitpun. Sjahrir dibawa layaknya seseorang yang tidak diculik, dia dikawal dengan sopan.
            Sjahrir dibawa beserta rombongannya, anatara lain para menteri seperti Darmawan Mangunkusumo, Sudarsono dan lain sebagainya, Mereka semua menginap di Hotel Merdeka. Pada saat proses penculikan Sjahrir para menteri ini mendengar peristiwa tersebut, namun sayangnya hal itu sudah terlambat, Hotel Merdeka sudah dikepung.
Namun, ada dua orang yang lolos sewaktu penangkapan, yaitu Sudarsono yang lolos dengan memanjat tembok dan Subadio dengan menggunakan sebatang bambu berhasil menyebrangi kali yang terdapat dibelakang Hotel tersebut.
Pada beberapa hari setelah penculikan berhasil, Sjahrir ditempatkan di Paras Solo, dan dimasukan ke dalam Bungalo Susuhunan, yang dikawal oleh Wakil Komandan Batalyon Soebagyo. Kemudian Yusuf dan kartono mengatakan kepada Iwa dan Yamin bahwa Sjahrir sudah disingkirkan. Akhirnya kemudian Yusuf menceritakan semua ini kepada hampir seluruh kelompok Persatuan Perjuangan, tak terkecuali Tan Malaka.
Setelah Yusuf menceritakan semuanya, akhirnya semua harus ikut berembug berfikir dan mempertimbangkan berbagai akibat dari peristiwa tersebut, yang dianggap terlalu dini. Dalam pembicaraan di Solo ini ada juga rasa menyesal dari para agen, seperti Tan Malaka dan Yamin yang tak tahu menahu masalah penculikan Sjahrir.
Pada tanggal 28 Juni 1946 pukul sepuluh pagi, PM Sjahrir sebenarnya ditunggu untuk menghadiri siding kabinet, namun ternyata ia tidak lekas muncul juga. Karena tidak ada berita dari Solo mengenai ketidak hadiran Sjahrir, maka seketika berita penculikan Sjahrir merebak luas.
            Dalam desas desus berita di Yogya, mengabarkan bahwa dalang dari penculikan Sjahrir adalah komplotan Tan Malaka. Berita ini mucul di Yogya karena perintah dari Sudarsono dan Subadio yang lolos dari penculikan. Namun, keterangan yang diceritakan oleh kedua orang ini tidak ada kejelasan mengenai siapa pelaku dan latar belakangnya.
            Ketika berita ini merebak keseluruh penjuru tanah air, para tokoh-tokoh besar republik merasa khawatir akan akibat-akibat yang merugukan dalam hal hubungan Internasional. Sehingga Amir meminta Sukarno untuk membantu mencari jejak keberadaan Sjahrir melalui radio. Namun masukan ini agaknya terlalalu awal.
            Pada tanggal 28 Juni kabinet juga mengambil keputusan segera memberlakukan Keadaan Darurat Perang untuk seluruh Indonesia. Keputusan ini ditandatangani  oleh Sukarno dan Amir, atas nama Dewan Menteri. Ini merupakan sebuah keputusan yang memiliki arti simbolis, yang mencerminkan suasana krisis dan ketegangan, tetapi pemerintah juga menginginkan agar dalam situasi seperti ini persatuan tetap dijaga.
2.2 Manuver Sekitar Penculikan
            Dalam priode ini nampaknya peran yang masih menjadi misteri adalah Sudarsono yang merupakan atasan dari Yusuf, namun merupakan orang yang termasuk dalam kelompok PM Sjahrir. Kanapi seseorang yang disisihkan oleh Sudarsono karena kepentingan yang dilakukan oleh Yusuf menceritakan peristiwa tersebut kepada Sudarsono, namun Sudarsono hanya terlihat tersenyum mendengar cerita dari Kanapi. Kesannya Sudarsono sekurang-kurangnya telah mengetahui rencana penculikan tersebut.
            Berita tentang hilangnya PM Sjahrir sudah semakin meluas, bahaya timbulnya aksi tak terkendali dari berbagai kalangan juga semakin besar. Sehingga pemerintah harus segera mengambil keputusan, akhirnya Presiden Sukarno pada tengah malam menandatangani Maklumat No. 1 tahun 1946.
            “Berhubung dengan kejadian-kejadian dalam negeri yang membahayakan keselamatan Negara dan perjuangan kemerdekaan kita, maka kami Presiden republik Indonesia dengan persetujuan Kabinet dalam sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946 mengambil kekuasaan pemerintah sepenuhnya untuk sementara waktu sampai keadaan biasa yang memungkinkan kabinet dan lain-lain badan resmi bekerja sebagaimana mestinya”
            Kelompok Persatuan Perjuangan tersenyum mendengar maklumat ini, mereka berharap Sukarno nantinya akan bersimpati kepada haluan politik mereka. Para rakyat pun seluruhnya memberikan kepercayaan kepada Sukarno untuk memegang kembali seluruh kekuasaan negeri, karena rakyat menganggap kiprah para kabinet kurag begitu jelas.
2.3 Sukarno Bertindak
            Hari sabtu siang Sukarno memiliki waktu untuk mengadakan suatu Konferensi pers. Dalam kesempatan ini ia menjelaskan tentang keputusan untuk mengambilalih seluruh kekuasaan di tangannya. Karena alasan situasi yang sedang kritis.
            Dalam konferensi ini ia menegaskan juga bahwa tuntutanya masih tetap kemerdekaan seratus persen untuk seluruh Indonesia. Ia memberi penjelasan mengenai usul balasan bersama Amir, yang mencantumkan pengakuan kemerdekaan seratus persen masih menjadi tuntutan.
            Sukarno meminta agar para tentara bekerja dan memenuhi tugasnya masing-masing. Seruan yang menarik ini tentunya merujuk pada masalah penculikan PM Sjahrir, yang dalam konferensi pers ini sedikitpun tidak disebut.
            Sementara usaha-usah pencarian PM Sjahrir yang dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah ternyata masih tetap tanpa hasil. Setelah itu tutup mulut pun terus berjalan sembari mengharapkan penyelesaian dengan cara diam-diam. Setelah selang beberapa waktu, dikeluarka pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Sukarno.
            “pada tengah malam tanggal 27 menjelang 28 Juni PM Sjahrir seropbot oleh satu segerombolan dari tempat penginapannya di Solo. Beserta para perdana menteri lainnya. Ini adalah satu perbuatan yang jahat sekali, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh pemerintah republik Indonesia. Perbuatan itu nyata ujungnya untuk melemahkan kekuatan pemerintah kita dimata dunia Internasional, sehingga Belanda dapat menarik keuntungan dari pada itu dalam perundingan tentang kemerdekaan Indonesia. Dalam masa yang sangat genting ini, dimana banyak diantara kita yang kena perangkap Nica, untuk melemahkan kita dari dalam, maka diharap kepada segala rakyat yang berpikir sehat supaya berdiri bulat dibelakang pemerintah, dan berusaha supaya Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan lainnya itu dibebaskan”.
            Demikian isi pernyataan tersebut jelas sekali, ruang untuk kompromi sudah tertutup. Para pelaku digolongkan  sebagai kaki tangan NICA, lebih busuk dari itu tidak bisa lagi. Dan Sukarno yang menandatangani perintah itu sudah se-ia se-kata mengenai penculikan Sjahrir.
            Hal inipun membuat genting para rombongan yang memiliki rencana dan telah menahan Sjahrir. Sutarto dengan perasaan yang tidak senang menasihati dan memberi peringatan keras terhadap Yusuf.
            Tidak jelas, apakah sesudah, sebelum, selagi rapat di Magelang, dilaporkan kepada Amir tentang penahan Sjahrir di Paras, dan tentang adanya surat perintah Sudarsono yang mengawali penculikan. Turunan surat perintah itu juga disampaikan kepada Amir.
            Dalam aksi laporan ini diduga oleh Sutarto yang sedang kalang kabut dengan ke khawatirannya, selain memberi informasi tersebut kepada Sukarno, ada lagi yang bisa ia berikan. Ia bisa mengurus kembalinya Sjahrir dengan selamat. Dan sebagai timbal baliknya peran aktif Sutarto dalam penculikan tersebut dilupakan.
            Setelah Sukarno, Hatta, Amir yang rapat bersama Sudirman di Magelang, tiga pemimpin ini menyerahkan surat turunan perintah Sudarsono kepada yusuf diserahkan ke Sudirman. Dan Sudirman menerima perintah untuk mengatur pembebasan Sjahrir.
            Namun beberapa kali Sudirman sebenarnya melakukan teguhan terhadap kasus ini, seperti demi kepentingan terselesaikannya masalah dengan cepat, pemerintah harus menghilangkan kesan bahwa penculikan merupakan persoalan penduduk Solo.
            Setelah itu pada hari sabtu pagai Sudirman berangkat ke Solo, dan Sudirman juga mengundang banyak aktivis-aktivis revolusi termasuk Sudarsono, namun tanpa memberi tahu ada hal apa yang akan dibicaarakan.
            Di Rumah Sudirman terjadilah sebuah perkumpulan, Sudirman membagika kertas surat perintah dari Sukarno mengenai masalah Sjahrir. Ia juga berpidato dan menjelaskan panjang lebar mengenai permasalahan yang sedang melanda negerinya.
            Ia mengatakan bahwa penculikan itu sudah sering terjadi, itu perbuatan dari suatu kelompok kecil yang memberikan akibat yang serius. Penculikan Sjahrir dan kawan-kawannya menghadapkan Negara pada keadaan bahaya. Oleh karena itu tidak bisa dan tidak boleh dibiarkan saja. Ini merupakan perbuatan musuh musuh dalam selimut.
            Sebuah Negara yang Perdana Menterinya diculik akan kehilangan mukanya, maka pantaslah jika Belanda berkata “lihat bangsa Indonesia belum matang untuk merdeka”. Ada dugaan kelompok yang melakukan penculikan ini adalah kelompok yang merasa dirinya orang kiri yang lebih dari kiri, lebih radikal daripada radikal. Tanpa disadari mereka melakukan kerjasama dengan koloni ke lima dari NICA.
            Barangkali mereka mengira dengan perbuatannya Republik akan diperkuat, artinya dilihat dari subyektif niat mereka memiliki arti yang baik. Namun dari segi objektif aksi mereka membawa akibat yang buruk bagi Negara. Posisi Negara semakin lemah, jalan bagi musuh untuk memasuki Negara kita semakin terbuka lebar-lebar.
2.4 Pembebasan PM Sjahrir
            Pada pukul empat pagi hari senin tanggal 1 Juli dengan tak disangka-sangka Sjahrir muncul di Istana Presiden. Sukarno memeluk Sjahrir, istrinya ibu Fatmawati membuatkan kopi untuk para pengawal Sjahrir. Di depan mereka Sukarno berkata “biar dunia Internasional tahu, bahwa Republik Indonesia masih mempunyai pemuda. Pemuda yang memiliki tanggung jawab tak hanya digaris depan, namun juga dibelakang. Republik masih mempunyai seorang perdana menteri.
            Pembebasan Sjahrir pun sudah gemar dibicarakan di koran-koran, Sjahrir juga berbicara di radio sedikit mengenai pengalamannya dalam peristiwa penculikan, bahwa kekacauan yang terjadi karena penculikanya hanyalah menguntungkan kekuatan yang berbahaya dan pihak Avonturier yang hendak melumpuhkan perjuangan.
            Akhirnya surat perintah penangkapan terhadap kelompok yang telah menculik Sjahrir ditandatangani dan sederet nama yang diduga terlibat sebagai tersangka sudah tercatat, diantaranya Sudarsono, Yusuf dan lain sebagainya.
           






BAB III
KESIMPULAN

Pertentangan antara Tan Malaka dan kelompoknya dengan pemerintah dan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri makin memuncak, dan mengakibatkan diculiknya PM Sjahrir dan para menteri-menteri yang berada di Solo  pada 27 Juni 1946, yang diculik oleh Mayor AK Yusuf dan komplotannya.
Akibat dari peristiwa tersebut begitu jelas berdampak pada kondisi yang dialami oleh Negara republic Indonesia, pantas jika Belanda berkata “lihat Indonesia belum siap merdeka”.  Diduga agen penculikan Sjahrir ialah orang-orang yang melakukan kerjasama dengan agen koloni ke lima NICA.
Akibat peristiwa tersebut maka kekuasaan Negara diambilalih oleh Presiden berdasarkan maklumat No. 1 tahun 1946. Namun Presiden menekankan dia tidak ingin bertindak dictator, dia melakukan suatu kebijakan pasti berdasarkan Undang-Undang Dasar.
Setelah beberapa waktu berselang Presiden juga menyerukan melalui perintahnya  agar PM Sjahrir segera dilepaskan. Dan akhirnya pada tanggal 1 Juli PM Sjahrir mengejutkan Sukarno di Istana Merdeka. Ia tiba-tiba muncul bersama para pengawal yang mengantarnya.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Poeze. Hary A.2009 Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I dan II.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2.      Mrazek. Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
3.      Malaka. Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok: Diandra Pustaka Indonesia.
4.      Anwar. R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir: Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
5.      O.E. Engelen, Aboe Bakar Loebis dkk. 1996. Lahirya Satu Bangsa dan Negara. Jakarta UI Pers
6.      Dekker Nyoman. 1989. Sejarah Revolusi Nasional. Jakarta: Balai Pustaka
7.      Tempo. 2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan: Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar