Jumat, 22 November 2013

Konflik Strategi Politik : Sutan Sjahrir dan Tan Malaka 1945-1949



Konflik Strategi Politik : Sutan Sjahrir dan Tan Malaka  
1945-1949





Makalah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Nasional
Disusun oleh:
                                            Abdul Amin/1206206272







ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2013





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia, Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
Proklamasi serentak terdengar ditelinga massa, hal ini terlaksana karena menyerahnya Jepang, disusul juga dengan kedatangan Sekutu disertai dengan keinginan kembali Belanda memegang kekuasaan di Indonesia, pasca proklamasi kemerdekaan yang mengaung di Tanah Air, para pemimpin Indonesia harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini, ada dua perbedaan mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi Belanda dan Sekutu, juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Di lain pihak, bagi Tan Malaka, perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan. Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan 100%,  menurutnya perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan 100% dari Belanda dan Sekutu, tanpa itu nonsense.[1]
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka selama musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.

1.2  Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1        Bagaimanakah awalmula konflik antar Sjahrir dan Tan Malaka ?
1.2.2        Bagaimana puncak konflik Sjahrir dan Tan Malaka?
1.2.3        Bagaimanakah akhir dari perseteruan duo Minang Sjahrir dan Tan Malaka?

1.3  Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana terjadinya konflik pemikiran antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata dan peperang. Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk mempertahankan kemerdekaan.

1.4  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia, seperti datangnya kembali pihak kolonial. Hal itulah yang memunculkan rangkaian konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.

1.5  Metode Penelitian
Dalam proses pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah, tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI, Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
            Setelah melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah. Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang mendukung dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan isi yang mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga, yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut, masing-masing dari kami memberikan review tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
            Terakhir adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.



BAB II
ISI
2.1 Riwayat Singkat
            Sjahrir dan Tan Malaka merupakan pemikir dan pejuang yang berasal dari ranah Minangkabau. Sjahrir dilahirkan pada tahun 1909 lebih muda sekitar 15 tahun dari Tan Malaka yang lahir sekitar tahun 1894[2]. Sjahrir dan Tan malaka sama-sama mengenyam pendidikan barat yang kemudian membentuk pola pemikiran mereka (ideologi). Pada tahun 1915 Sjahrir masuk ke Sekolah terbaik di Medan Europeesche Lagere School (ELS), kemudian Sjahrir melanjutkan sekolahnya di MULO hingga lulus pada tahun 1923, dan tiga tahun berikutnya dia melanjutkan ke sekolah tersebut untuk jenjang yang berikutnya.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana, Sjahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme.[3]
Sedangkan Tan Malaka Pada tahun 1908 ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock dan melanjutkan ke Rijks Kweekschool di Harleem Belanda pada tahun 1913, Selebihnya ia mengembara bersama ideologinya.[4]
2.2 Awal pertemuan
            Sekitar pada tahun 1945 pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia terdengar di telinga massa, beberapa pekan setelah itu di Serang, Banten, Tan Malaka bertemu dengan Sjahrir untuk berkompromi mengenai masalah kepemimpinan di Republik Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya. Hal ini adalah kali pertama Tan Malaka sang tokoh radikal berembug dengan tokoh social-demokrat seperti Sjahrir.
            Dalam pertemuan ini Tan Malaka berusaha mengajak Sjahrir untuk bersama-sama menyingkirkan Soekarno sebagai pemimpin Revolusi di Indonesia. Disini Tan Malaka ingin menjalankan tesis Trotsky tentang “revolusi terus menerus”, menurut Trotsky revolusi harus  terus menerus tanpa jeda sedikitpun. Ia tak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti di Rusia dan Indonesia revolusi berlangsung dalam dua tahap: pertama, tahap Borjuis dan Demokratis dan kemudian baru tahap Sosialis.
            Bagi Negara yang saat itu setengah Feodal dan setengah Kolonial, kaum Borjuis terlampau lemah untuk menyelesaikan agenda revolusi sebuah Negara. Menurutnya kaum Proletarlah yang harus melaksanakan revolusi itu.  Oleh karena itu, niat Tan Malaka yang melihat dirinya adalah wakil dari kaum ploretar, harus menggantikan Soekarno wakil dari kaum Borjuis.
Namun, justru tawaran Tan Malaka ini direspon Sjahrir dengan jawaban yang “meremehkan“. Jika Tan Malaka bisa menunjukan pengaruhnya sebesar 10 % saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat tanah air, maka Sjahrir akan ikut bersekutu dengannya”. Karena dikalangan rakyat Tan Malaka tak begitu sebanding dengan sosok Bung Karno.[5]
            Dapat dilihat secara tersirat dalam kata-kata Sjahrir ada sikap meremehkan Tan Malaka, konon Sjahrir juga malah menasihati Tan Malaka agar ia berkeliling Jawa terlebih dahulu sebelum ia mengambil sikap dari ucapannya tersebut. Pertemuan di Serang, Banten, itu nampaknya lebih terlihat seperti perselisihan, bukanlah perundingan untuk sebuah kesepakatan atau kerjasama.[6]

2.3 Mulai memanasnya konflik
Pada tanggal 10 November 1945, Kementerian Penerangan mengumumkan penerbitan sebuah buklet yang ditulis oleh Sjahrir. Buklet itu berjudul ”Perjuangan Kita”. Tulisan itu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran politik di Indonesia, terutama di kalangan pemuda. Soebadio Sastrosatomo, seorang pengikut Sjahrir bahkan berpandangan bahwa kalau Maklumat Politik tanggal 1 November 1945 merupakan pedoman untuk negara, maka buklet tersebut dimaksudkan untuk rakyat dan masyarakat Indonesia.[7]
Tulisan tersebut merupakan diagnosis masalah-masalah kontemporer Indonesia yang paling jelas terartikulasikan dan satu-satunya program yang koheren bagi pengembangan perjuangan nasionalis selama tahun-tahun konflik fisik dengan Belanda. Selama revolusi fisik, isi program Sjahrir hanya bisa dibandingkan dengan program Tan Malaka dalam Persatuan Perjuangan. Soekarno sendiri tidak mengeluarkan pernyataan publik yang luas sebagai pandangannya sendiri dalam fase perjuangan nasional ini. Dalam kaitan tersebut ada sebuah  pandangan bahwa sikap Soekarno tersebut sangat kontras dengan sikapnya pada periode sebelum dan sesudah fase ini (revolusi fisik) sebagai seorang ideolog.
Dalam buklet itu, Sjahrir menegaskan, terutama kepada pemuda untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab, berjuang dengan segenap jiwa revolusionernya. Ia juga menyerukan untuk menghindari kekerasan anti-asing dan anti-indo, serta mengerahkan kekuatan untuk membentuk pemerintahan yang demokratis. Ide tentang revolusi demokratis itu dikemukakan Sjahrir untuk melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas akibat pengaruh pendudukan Jepang.[8]
Revolusi nasional baginya bukanlah yang nomor satu, akan tetapi demokrasilah yang utama. Bahkan revolusi nasional dianggapnya hanya buntut dari revolusi demokrasi. Perjuangan demokrasi yang dicita-citakannya itu harus dimulai dengan membersihkan diri dari noda-noda fasisme Jepang, yaitu dengan menyingkirkan orang-orang yang sudah menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis Jepang. Sjahrir mengatakan bahwa gejolak-gejolak politik yang timbul di dalam negeri Indonesia itu tidak terlepas dari pemerintah negara RI itu sendiri. Padahal katanya, kalahnya Jepang atas Sekutu serta terlambat datangnya tentara Sekutu untuk mengganti Jepang sebetulnya memberikan kesempatan yang baik bagi pemerintah untuk menyusun kekuasaan negara. Hal tersebut tidak bisa tercipta oleh karena mereka yang berada di pemerintahan adalah para kolaborator Jepang.[9]
Menurut Sjahrir, kedudukan Indonesia pada waktu itu sangatlah lemah. Indonesia berada di daerah yang dipengaruhi oleh kekuatan imperialisme-kapitalisme Amerika dan Inggris. Oleh karena itu, menjadi tidak bijaksana kalau Indonesia memusuhi dua kekuatan tersebut. Nasib Indonesia menjadi tergantung pada keadaan dunia internasional, sehingga harus menyesuaikan diri dengannya. Diplomasi yang luwes dan pintar menjadi jalan satu-satunya untuk menjamin kemerdekaan Indonesia agar Amerika dan Inggris tidak mendukung penuh Belanda.
Setelah melalui usaha-usaha yang panjang, akhirnya Sjahrir tanggal 14 November 1945 diangkat menjadi perdana menteri dan segera mengumumkan kabinetnya. Naiknya Sjahrir sebagai perdana menteri menunjukkan kepada Belanda bahwa republik ini bukan bentukan Jepang. Sehingga dapat menaikkan posisi diplomatik Indonesia di hadapan Sekutu dan dunia internasional.[10]
Keberhasilan Sjahrir menduduki jabatan sebagai perdana menteri tidak serta-merta menghilangkan gejolak-gejolak yang ada. Persoalan demi persoalan muncul akibat ketidakpuasan terhadap kabinet yang baru terbentuk itu.  Terdapat dua hal yang menjadi fokus permasalahan. Pertama, kabinet tersebut jelas tidak mewakili semua golongan, bahkan hanya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dari Partai Sosialis dan beberapa orang profesional yang buta politik. Kedua, isi program kabinet tersebut yang mengutamakan diplomasi daripada perlawanan bersenjata.
Salah satu kelompok yang keras menentang kebijakan-kebijakan Sjahrir itu adalah kelompok Tan Malaka. Kelompok penentang ini terutama sekali para pemuda yang menyatakan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukan merupakan sesuatu yang harus dirundingkan. Kemerdekaan itu adalah seratus persen milik bangsa Indonesia. Kecenderungan seperti itu semakin memuncak setelah terjadinya pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Para pemuda dan rakyat rela dan berani mempertaruhkan nyawa. Walaupun hanya bersenjata seadanya untuk melawan tentara Sekutu.
Tan Malaka yang melihat secara langsung peristiwa itu menganggap bahwa semangat yang muncul pada waktu itu merupakan tanda untuk dapat menggerakkan massa guna merealisasikan revolusi total. Baginya, pertempuran-pertempuran amat penting dilakukan dengan pengorganisasian serta kepemimpinan yang kuat. Bukan semata-mata hanya dilakukan dengan perundingan-perundingan.[11]
Pada tanggal 2 Desember 1945, tiga minggu setelah diterbitkannya ”Perjuangan Kita”, Tan Malaka mengeluarkan tiga brosur yang berjudul ”Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi”. Namun, Muslihat yang paling terlihat menentang diplomasi Sjahrir. Brosur itu berisi ajakan kepada semua golongan atau lapisan untuk bersatu mengadakan perlawanan bersama revolusi total, lengkap dengan strategi dasarnya. Strategi itu antara lain perlunya membentuk laskar rakyat, pembagian tanah pada si miskin, hak buruh dalam mengontrol produksi, membuat rencana ekonomi perang, pengusiran tentara asing, dan perlucutan senjata Jepang. Kunci dari strategi itu adalah bahwa revolusi mempunyai tiga segi, yaitu politik, ekonomi, dan militer.[12]
Ide revolusi Tan Malaka semakin mendapatkan sambutan, terutama di kalangan pemuda. Hal itu terutama sesuai dengan semangat zaman yang sedang menggelora. Mereka memandang ide Tan Malaka merupakan alternatif baru dalam revolusi. Apalagi kemudian bila dibandingkan dengan ”Perjuangan Kita” milik Sjahrir yang mengutamakan perundingan atau jalur diplomasi. Ide Tan Malaka yang tertulis dalam ”Muslihat” adalah jawaban yang radikal atas tulisan Sjahrir tersebut. Maka bukan suatu yang salah kalau Tan Malaka memberikan judul tulisannya dengan ”Muslihat”.
Pada tanggal 15 Januari 1946 dibentuklah “persatuan perjuangan” dan langsung digalang oleh Tan Malaka dan sekutunya untuk proses kedepan.  Dalam kongresnya di Solo tanggal 15-16 Januari 1946, yang dihadiri oleh lima ratus orang pengunjung yang merupakan representasi dari 141 organisasi.
 Persatuan Perjuangan memutuskan sebuah program politik yang disebut ”Minimum Program” yang terdiri atas tujuh pasal. ”Minimum Program” itu didasarkan pada pidato Tan Malaka pada kongres sebelumnya di Purwokerto tanggal 3-5 Januari 1946 yang merupakan kemunculan pertamanya di depan massa setelah ia meninggalkan Indonesia pada 1922. Adapun isi ”Minimum Program” itu antara lain; berunding atas pengakuan kemerdekaan seratus persen, pemerintahan rakyat (dalam arti sesuainya haluan pemerintah dengan kemauan rakyat), tentara rakyat (dalam arti sesuainya haluan tentara dengan kemauan rakyat),  melucuti tentara Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita dan menyelenggarakan pertanian (kebun), menyita dan menyelenggarakan perindustrian musuh (pabrik, bengkel, tambang, dan lain sebagainya).[13]
Program itu, menurut Tan Malaka, juga berisikan perjuangan anti-kapitalis dan anti-imperialis yang dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh rakyat Ploretar. Jelas bahwa pandangan Tan Malaka yang termaktub dalam ”Minimum Program” Persatuan Perjuangan sangat bertentangan dengan ide Sjahrir dalam ” Perjuangan Kita”. Terutama sekali pasal satu tersebut. Pasal ini menantang kebijakan damai yang diajukan Sjahrir terhadap Inggris dan mencoba memperoleh dukungan mereka dalam perundingan-perundingan dengan Belanda. Hal itu tidak terlepas dari pandangan Tan Malaka yang menganggap persatuan dalam menyelesaikan revolusi adalah perjuangan untuk menghadapi musuh bersama. Hal itu dilakukan hingga tercapai kemerdekaan seratus persen. Baginya, bukan persatuan untuk berkompromi yang berarti berkhianat kepada kemerdekaan seratus persen sebagaimana amanat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Dalam silang sengkarut pada masa pertemuan di Purwokerto, muncul juga sosok orang yang cukup terkenal dikalangan elit politik pada saat itu, yaitu Muhammad Yamin, yang juga merupakan aktivis dari Persatuan Perjuangan. Sikapnya yang sering tanpa konsultasi dengan para pemimpin Persatuan Perjuangan, seperti halnya ia sering secara terbuka mengkritik politik diplomasi dari Sjahrir yang dengan seribu satu kata diplomasinya disalahkan.[14]
Sikap frontalnya yang terlampau berani ini kian memanaskan situasi politik yang bersebrangan ini, namun Tan Malaka memaafkan terlalu frontalnya Yamin terhadap pemerintah. Tapi situasi tak terelakkan dan kian memanas, hingga situasi ini berujung pada mundurnya Sjahrir dari kursi Perdana Menteri pada tanggal 28 Februari 1946.[15]
Namun, mundurnya Sjahrir dari kursi jabatannya itu tak berlangsung lama, karena tak lama kemudian Soekarno kembali menunjuk Sjahrir untuk melanjutkan diplomasinya. Keputusan tersebut membuat rombongan Persatuan Perjuangan kembali memanas. Saking marahnya, bahkan para pemuda persatuan ini sempat menembaki mobil yang dikendarai Amir Sjarifudin ketika akan masuk Istana Negara.
Situasi kian memanas, bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir Sjarifudin memerintahkan para tentara untuk menangkap Tan Malaka dan tokoh Persatuan Perjuangan lainnya.  Ini semua karena intrik demi intrik disusun oleh pemerintahan Sjahrir untuk menjatuhkan Tan Malaka dari panggung politik yang baru dilakoninya. Sebenarnya hal ini direaksi dengan cepat oleh golongan Persatuan Perjuangan, Soedirman dengan cepat membalasnya dengan memerintahkan pasukanya untuk menangkap Sjahrir. Namun, atas kunjungan Soekarno yang meminta agar para rombongan Persatuan perjuan untuk melepaskan Sjahrir. Akhirnya Sjahrir dilepaskan atas perintah dari Soekarno tersebut.
Sementara situasi kian memanas, Tan Malaka dituduh mengacau keadaan, serta bertindak menggelisahkan pemerintahan Soekarno dan akan mengkudetanya. Karena itulah Tan Malaka ditangkap pada 17 Maret 1946. Dia hanya hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selang empat bulan kemudian, beberapa anggota Persatuan Perjuangan juga ditangkap atas tuduhan keterlibatan mereka dalam upaya kudeta yang gagal pada 3 Juli 1946. Insiden tersebut juga menandai bubarnya persatua perjuangan. Sjahrir menuduh Tan Malaka lah dalang dari aksi Kudeta tersebut. Namun hingga pembebasan Tan Malaka dua tahun kemudian, tuduhan itu tak pernah bisa dibuktikan.[16]

2.4 Detik berakhirnya konflik
            Tan Malaka setelah berada di penjara selama dua tahunan, hingga ia dibebaskan pada September 1948, ada yang beranggapan bahwa pembebasan Tan Malaka ini adalah politik dari perdana Menteri Hatta pada saat itu, yaitu untuk mengimbangi kekuatan Musso yang baru datang dari Moskow pada Agustus 1948.
            Keluar dari penjara Tan Malaka mendirikan partai Murba untuk merealisasikan gagasan-gagasannya, namun partai ini terlalu kecil dengan jumlah pendukung yang kurang pandai dalam manuver terhadap politik. Hingga akhirnya Tan Malaka lebih memilih untuk menggalang kekuatan tentara dan rakyat di Kediri, untuk menghadapi Agresi Militer Belanda yang kedua.[17]
            Sementara Sjahrir sebelumnya telah mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 1947. Setelah penandatangan Linggarjati yang menurut Tan Malaka sangat merugikan Indonesia. Bagi Sjahrir meskipun dia seorang yang berjuang melalui jalur diplomasi, Perjanjian Linggarjati merupakan pukulan telak bagi Republik Indonesia yang baru saja lahir. Kehilangan sebagian besar wilayah yang diperjuangkan bersama-sama dalam merebut kemerdekaan menjadi suatu kenyataan pahit. Dalam Perjanjian Linggarjati dan Renville, Belanda akan menuntut kembali hak-hak atas Indonesia. Hal itu mengakibatkan kelak Belanda akan mendapatkan kesempatan sepenuhnya untuk menguasai transportasi di daratan dan di lautan Indonesia. Dampak yang ditimbulkan lebih luas lagi, yaitu Belanda akan kembali menguasai perdagangan, baik di dalam ataupun luar Indonesia.[18]
            Setelah gejolak politik semakin berlalu, Tan Malaka dengan usianya yang kian menua, tetap melakukan manuver terhadap gejolak revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun kisruh mengenai Tan Malaka berakhir ketika ia berada di Kediri pada tahun 1949, dia dieksekusi oleh tentara Batalion. [19] 


BAB III
KESIMPULAN
          Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, bagi bangsa Indonesia bukan berarti pengambilalihan kekuasaan pemerintahan dari tangan penjajah semata. Namun lebih dari itu, merupakan langkah awal untuk menapak ke masa depan yang baru. Bagi bangsa Indonesia, proklamasi adalah sebuah momentum untuk mewujudkan cita-cita yang pernah diangankan, seperti yang tercetus pada Sumpah Pemuda tahun 1928.
Namun yang pasti, baik pemikiran Sutan Syahrir yang mengutamakan perundingan yang luwes dengan pihak colonial,  maupun Tan Malaka yang menginginkan angkat senjata sebelum pengakuan kemerdekaan 100%, mereka memberikan pemahaman bahwa proklamasi bukan akhir dari perdebatan pemikiran mengenai masa depan Indonesia, karena konflik politik setelahnya pasti kian meningkat.
           

DAFTAR PUSTAKA
1.      Poeze. Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2.      Poeze. Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid V.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
3.      Mrazek. Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
4.      Malaka. Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok: Diandra Pustaka Indonesia.
5.      Anwar. R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir: Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
6.      Tempo. 2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan: Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.



[1] Tan Malaka. Gerilya Politik Ekonomi. Hlm 11
[2] Poeze Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 1. Hlm xv
[3] Mrazek Rudolf. Sjahrir: politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 35-39
[4] Tempo edisi Tan Malaka: berakhir di Gunung Wilis. Agustus 2008
[5] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 542
[6] Tempo edisi. Tan Malaka: Sejak Agustus itu. Agustus 2008
[7] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 172
[8] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 173
[9] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 174
[10]Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 503
[11] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 545
[12] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 544
[13] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 218
[14] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 225
[15] Tempo edisi. Tan Malaka: Trio Minang Bersimpangan Jalan. Agustus 2008
[16] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 321
[17] Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008
[18] Tan Malaka. Gerpolek : gerilya, politik, ekonomi. Hlm.7
[19] Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar