Konflik Strategi Politik : Sutan Sjahrir dan Tan
Malaka
1945-1949
|
Makalah
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan
Nasional
Disusun
oleh:
Abdul Amin/1206206272
ILMU SEJARAH
FAKULTAS
ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS
INDONESIA
DEPOK,
2013
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia, Hal-hal
jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara
seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta,
hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama
bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
Proklamasi serentak terdengar ditelinga massa, hal ini terlaksana
karena menyerahnya Jepang, disusul juga dengan kedatangan Sekutu disertai
dengan keinginan kembali Belanda memegang kekuasaan di Indonesia, pasca
proklamasi kemerdekaan yang mengaung di Tanah Air, para pemimpin Indonesia
harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini, ada dua perbedaan
mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi Belanda dan Sekutu,
juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi perjuangan
mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan
nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan
pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau
perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Di lain pihak, bagi Tan
Malaka, perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan
peperangan. Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan
100%, menurutnya perundingan hanya bisa
dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan 100% dari Belanda dan Sekutu, tanpa
itu nonsense.[1]
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan
proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang
tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka selama
musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah
merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.
1.2 Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang
akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1
Bagaimanakah awalmula konflik antar
Sjahrir dan Tan Malaka ?
1.2.2
Bagaimana puncak konflik Sjahrir dan Tan
Malaka?
1.2.3
Bagaimanakah akhir dari perseteruan duo
Minang Sjahrir dan Tan Malaka?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana terjadinya konflik
pemikiran antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan
dengan cara diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata dan peperang.
Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan
bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk
mempertahankan kemerdekaan.
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan
dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai
permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan
kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia,
seperti datangnya kembali pihak kolonial. Hal itulah yang memunculkan rangkaian
konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.
1.5 Metode
Penelitian
Dalam proses
pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah,
tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan
dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan
adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI,
Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
Setelah
melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di
tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami
temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat
dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah.
Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang
mendukung dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan
isi yang mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga,
yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami
kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan
berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut,
masing-masing dari kami memberikan review
tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting
dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
Terakhir
adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk
tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah
ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat
mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan
menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.
BAB II
ISI
2.1 Riwayat Singkat
Sjahrir dan Tan Malaka
merupakan pemikir dan pejuang yang berasal dari ranah Minangkabau. Sjahrir
dilahirkan pada tahun 1909 lebih muda sekitar 15 tahun dari Tan Malaka yang
lahir sekitar tahun 1894[2].
Sjahrir dan Tan malaka sama-sama mengenyam pendidikan barat yang kemudian
membentuk pola pemikiran mereka (ideologi). Pada tahun 1915 Sjahrir masuk ke
Sekolah terbaik di Medan Europeesche
Lagere School (ELS), kemudian Sjahrir melanjutkan sekolahnya di MULO hingga
lulus pada tahun 1923, dan tiga tahun berikutnya dia melanjutkan ke sekolah
tersebut untuk jenjang yang berikutnya.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS)
di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Syahrir melanjutkan
pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana,
Sjahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan
teori-teori sosialisme.[3]
Sedangkan Tan Malaka Pada tahun 1908 ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di
Fort de Kock dan melanjutkan ke Rijks
Kweekschool di Harleem Belanda pada tahun 1913, Selebihnya ia mengembara
bersama ideologinya.[4]
2.2 Awal pertemuan
Sekitar pada tahun 1945
pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia terdengar di telinga massa, beberapa
pekan setelah itu di Serang, Banten, Tan Malaka bertemu dengan Sjahrir untuk
berkompromi mengenai masalah kepemimpinan di Republik Indonesia yang baru
memproklamirkan kemerdekaannya. Hal ini adalah kali pertama Tan Malaka sang
tokoh radikal berembug dengan tokoh social-demokrat seperti Sjahrir.
Dalam pertemuan
ini Tan Malaka berusaha mengajak Sjahrir untuk bersama-sama menyingkirkan
Soekarno sebagai pemimpin Revolusi di Indonesia. Disini Tan Malaka ingin
menjalankan tesis Trotsky tentang “revolusi terus menerus”, menurut Trotsky
revolusi harus terus menerus tanpa jeda
sedikitpun. Ia tak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti di Rusia
dan Indonesia revolusi berlangsung dalam dua tahap: pertama, tahap Borjuis dan
Demokratis dan kemudian baru tahap Sosialis.
Bagi Negara yang
saat itu setengah Feodal dan setengah Kolonial, kaum Borjuis terlampau lemah
untuk menyelesaikan agenda revolusi sebuah Negara. Menurutnya kaum Proletarlah
yang harus melaksanakan revolusi itu.
Oleh karena itu, niat Tan Malaka yang melihat dirinya adalah wakil dari
kaum ploretar, harus menggantikan Soekarno wakil dari kaum Borjuis.
Namun, justru tawaran Tan Malaka ini direspon Sjahrir dengan
jawaban yang “meremehkan“. Jika Tan Malaka bisa menunjukan pengaruhnya sebesar
10 % saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat tanah air, maka Sjahrir
akan ikut bersekutu dengannya”. Karena dikalangan rakyat Tan Malaka tak begitu
sebanding dengan sosok Bung Karno.[5]
Dapat dilihat secara
tersirat dalam kata-kata Sjahrir ada sikap meremehkan Tan Malaka, konon Sjahrir
juga malah menasihati Tan Malaka agar ia berkeliling Jawa terlebih dahulu
sebelum ia mengambil sikap dari ucapannya tersebut. Pertemuan di Serang,
Banten, itu nampaknya lebih terlihat seperti perselisihan, bukanlah perundingan
untuk sebuah kesepakatan atau kerjasama.[6]
2.3 Mulai memanasnya
konflik
Pada tanggal 10 November 1945, Kementerian Penerangan mengumumkan
penerbitan sebuah buklet yang ditulis oleh Sjahrir. Buklet itu berjudul
”Perjuangan Kita”. Tulisan itu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
pemikiran politik di Indonesia, terutama di kalangan pemuda. Soebadio
Sastrosatomo, seorang pengikut Sjahrir bahkan berpandangan bahwa kalau Maklumat
Politik tanggal 1 November 1945 merupakan pedoman untuk negara, maka buklet
tersebut dimaksudkan untuk rakyat dan masyarakat Indonesia.[7]
Tulisan tersebut merupakan diagnosis masalah-masalah kontemporer
Indonesia yang paling jelas terartikulasikan dan satu-satunya program yang
koheren bagi pengembangan perjuangan nasionalis selama tahun-tahun konflik
fisik dengan Belanda. Selama revolusi fisik, isi program Sjahrir hanya bisa dibandingkan
dengan program Tan Malaka dalam Persatuan Perjuangan. Soekarno sendiri tidak
mengeluarkan pernyataan publik yang luas sebagai pandangannya sendiri dalam
fase perjuangan nasional ini. Dalam kaitan tersebut ada sebuah pandangan bahwa sikap Soekarno tersebut sangat
kontras dengan sikapnya pada periode sebelum dan sesudah fase ini (revolusi
fisik) sebagai seorang ideolog.
Dalam buklet itu, Sjahrir menegaskan, terutama kepada pemuda untuk
bertindak dengan penuh tanggung jawab, berjuang dengan segenap jiwa
revolusionernya. Ia juga menyerukan untuk menghindari kekerasan anti-asing dan
anti-indo, serta mengerahkan kekuatan untuk membentuk pemerintahan yang
demokratis. Ide tentang revolusi demokratis itu dikemukakan Sjahrir untuk
melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas akibat pengaruh pendudukan
Jepang.[8]
Revolusi nasional baginya bukanlah yang nomor satu, akan tetapi demokrasilah
yang utama. Bahkan revolusi nasional dianggapnya hanya buntut dari revolusi
demokrasi. Perjuangan demokrasi yang dicita-citakannya itu harus dimulai dengan
membersihkan diri dari noda-noda fasisme Jepang, yaitu dengan menyingkirkan orang-orang
yang sudah menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis Jepang. Sjahrir
mengatakan bahwa gejolak-gejolak politik yang timbul di dalam negeri Indonesia
itu tidak terlepas dari pemerintah negara RI itu sendiri. Padahal katanya,
kalahnya Jepang atas Sekutu serta terlambat datangnya tentara Sekutu untuk
mengganti Jepang sebetulnya memberikan kesempatan yang baik bagi pemerintah untuk
menyusun kekuasaan negara. Hal tersebut tidak bisa tercipta oleh karena mereka
yang berada di pemerintahan adalah para kolaborator Jepang.[9]
Menurut Sjahrir, kedudukan Indonesia pada waktu itu sangatlah
lemah. Indonesia berada di daerah yang dipengaruhi oleh kekuatan imperialisme-kapitalisme
Amerika dan Inggris. Oleh karena itu, menjadi tidak bijaksana kalau Indonesia
memusuhi dua kekuatan tersebut. Nasib Indonesia menjadi tergantung pada keadaan
dunia internasional, sehingga harus menyesuaikan diri dengannya. Diplomasi yang
luwes dan pintar menjadi jalan satu-satunya untuk menjamin kemerdekaan Indonesia
agar Amerika dan Inggris tidak mendukung penuh Belanda.
Setelah melalui usaha-usaha yang panjang, akhirnya Sjahrir tanggal
14 November 1945 diangkat menjadi perdana menteri dan segera mengumumkan kabinetnya.
Naiknya Sjahrir sebagai perdana menteri menunjukkan kepada Belanda bahwa
republik ini bukan bentukan Jepang. Sehingga dapat menaikkan posisi diplomatik
Indonesia di hadapan Sekutu dan dunia internasional.[10]
Keberhasilan Sjahrir menduduki jabatan sebagai perdana menteri tidak
serta-merta menghilangkan gejolak-gejolak yang ada. Persoalan demi persoalan muncul
akibat ketidakpuasan terhadap kabinet yang baru terbentuk itu. Terdapat dua hal yang menjadi fokus
permasalahan. Pertama, kabinet tersebut jelas tidak mewakili semua golongan,
bahkan hanya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dari Partai Sosialis dan beberapa
orang profesional yang buta politik. Kedua, isi program kabinet tersebut yang mengutamakan
diplomasi daripada perlawanan bersenjata.
Salah satu kelompok yang keras menentang kebijakan-kebijakan
Sjahrir itu adalah kelompok Tan Malaka. Kelompok penentang ini terutama sekali
para pemuda yang menyatakan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukan merupakan
sesuatu yang harus dirundingkan. Kemerdekaan itu adalah seratus persen milik
bangsa Indonesia. Kecenderungan seperti itu semakin memuncak setelah terjadinya
pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Para pemuda dan rakyat rela
dan berani mempertaruhkan nyawa. Walaupun hanya bersenjata seadanya untuk
melawan tentara Sekutu.
Tan Malaka yang melihat secara langsung peristiwa itu menganggap
bahwa semangat yang muncul pada waktu itu merupakan tanda untuk dapat
menggerakkan massa guna merealisasikan revolusi total. Baginya, pertempuran-pertempuran
amat penting dilakukan dengan pengorganisasian serta kepemimpinan yang kuat. Bukan
semata-mata hanya dilakukan dengan perundingan-perundingan.[11]
Pada tanggal 2 Desember 1945, tiga minggu setelah diterbitkannya
”Perjuangan Kita”, Tan Malaka mengeluarkan tiga brosur yang berjudul ”Muslihat,
Politik dan Rencana Ekonomi”. Namun, Muslihat yang paling terlihat menentang
diplomasi Sjahrir. Brosur itu berisi ajakan kepada semua golongan atau lapisan
untuk bersatu mengadakan perlawanan bersama revolusi total, lengkap dengan
strategi dasarnya. Strategi itu antara lain perlunya membentuk laskar rakyat, pembagian
tanah pada si miskin, hak buruh dalam mengontrol produksi, membuat rencana
ekonomi perang, pengusiran tentara asing, dan perlucutan senjata Jepang. Kunci
dari strategi itu adalah bahwa revolusi mempunyai tiga segi, yaitu politik,
ekonomi, dan militer.[12]
Ide revolusi Tan Malaka semakin mendapatkan sambutan, terutama di
kalangan pemuda. Hal itu terutama sesuai dengan semangat zaman yang sedang menggelora.
Mereka memandang ide Tan Malaka merupakan alternatif baru dalam revolusi.
Apalagi kemudian bila dibandingkan dengan ”Perjuangan Kita” milik Sjahrir yang
mengutamakan perundingan atau jalur diplomasi. Ide Tan Malaka yang tertulis
dalam ”Muslihat” adalah jawaban yang radikal atas tulisan Sjahrir tersebut.
Maka bukan suatu yang salah kalau Tan Malaka memberikan judul tulisannya dengan
”Muslihat”.
Pada tanggal 15 Januari 1946 dibentuklah “persatuan perjuangan”
dan langsung digalang oleh Tan Malaka dan sekutunya untuk proses kedepan. Dalam kongresnya di Solo tanggal 15-16
Januari 1946, yang dihadiri oleh lima ratus orang pengunjung yang merupakan
representasi dari 141 organisasi.
Persatuan Perjuangan memutuskan
sebuah program politik yang disebut ”Minimum Program” yang terdiri atas tujuh
pasal. ”Minimum Program” itu didasarkan pada pidato Tan Malaka pada kongres
sebelumnya di Purwokerto tanggal 3-5 Januari 1946 yang merupakan kemunculan
pertamanya di depan massa setelah ia meninggalkan Indonesia pada 1922. Adapun
isi ”Minimum Program” itu antara lain; berunding atas pengakuan kemerdekaan
seratus persen, pemerintahan rakyat (dalam arti sesuainya haluan pemerintah
dengan kemauan rakyat), tentara rakyat (dalam arti sesuainya haluan tentara
dengan kemauan rakyat), melucuti tentara
Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita dan menyelenggarakan pertanian
(kebun), menyita dan menyelenggarakan perindustrian musuh (pabrik, bengkel,
tambang, dan lain sebagainya).[13]
Program itu, menurut Tan Malaka, juga berisikan perjuangan
anti-kapitalis dan anti-imperialis yang dapat dengan mudah dimengerti dan
dilaksanakan oleh rakyat Ploretar. Jelas bahwa pandangan Tan Malaka yang termaktub
dalam ”Minimum Program” Persatuan Perjuangan sangat bertentangan dengan ide
Sjahrir dalam ” Perjuangan Kita”. Terutama sekali pasal satu tersebut. Pasal
ini menantang kebijakan damai yang diajukan Sjahrir terhadap Inggris dan
mencoba memperoleh dukungan mereka dalam perundingan-perundingan dengan
Belanda. Hal itu tidak terlepas dari pandangan Tan Malaka yang menganggap
persatuan dalam menyelesaikan revolusi adalah perjuangan untuk menghadapi musuh
bersama. Hal itu dilakukan hingga tercapai kemerdekaan seratus persen. Baginya,
bukan persatuan untuk berkompromi yang berarti berkhianat kepada kemerdekaan seratus
persen sebagaimana amanat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Dalam silang sengkarut pada masa pertemuan di Purwokerto, muncul
juga sosok orang yang cukup terkenal dikalangan elit politik pada saat itu,
yaitu Muhammad Yamin, yang juga merupakan aktivis dari Persatuan Perjuangan.
Sikapnya yang sering tanpa konsultasi dengan para pemimpin Persatuan
Perjuangan, seperti halnya ia sering secara terbuka mengkritik politik
diplomasi dari Sjahrir yang dengan seribu satu kata diplomasinya disalahkan.[14]
Sikap frontalnya yang terlampau berani ini kian memanaskan situasi
politik yang bersebrangan ini, namun Tan Malaka memaafkan terlalu frontalnya
Yamin terhadap pemerintah. Tapi situasi tak terelakkan dan kian memanas, hingga
situasi ini berujung pada mundurnya Sjahrir dari kursi Perdana Menteri pada
tanggal 28 Februari 1946.[15]
Namun, mundurnya Sjahrir dari kursi jabatannya itu tak berlangsung
lama, karena tak lama kemudian Soekarno kembali menunjuk Sjahrir untuk melanjutkan
diplomasinya. Keputusan tersebut membuat rombongan Persatuan Perjuangan kembali
memanas. Saking marahnya, bahkan para pemuda persatuan ini sempat menembaki
mobil yang dikendarai Amir Sjarifudin ketika akan masuk Istana Negara.
Situasi kian memanas, bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir
Sjarifudin memerintahkan para tentara untuk menangkap Tan Malaka dan tokoh
Persatuan Perjuangan lainnya. Ini semua
karena intrik demi intrik disusun oleh pemerintahan Sjahrir untuk menjatuhkan
Tan Malaka dari panggung politik yang baru dilakoninya. Sebenarnya hal ini
direaksi dengan cepat oleh golongan Persatuan Perjuangan, Soedirman dengan
cepat membalasnya dengan memerintahkan pasukanya untuk menangkap Sjahrir.
Namun, atas kunjungan Soekarno yang meminta agar para rombongan Persatuan
perjuan untuk melepaskan Sjahrir. Akhirnya Sjahrir dilepaskan atas perintah
dari Soekarno tersebut.
Sementara situasi kian memanas, Tan Malaka dituduh mengacau
keadaan, serta bertindak menggelisahkan pemerintahan Soekarno dan akan
mengkudetanya. Karena itulah Tan Malaka ditangkap pada 17 Maret 1946. Dia hanya
hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selang empat bulan
kemudian, beberapa anggota Persatuan Perjuangan juga ditangkap atas tuduhan
keterlibatan mereka dalam upaya kudeta yang gagal pada 3 Juli 1946. Insiden
tersebut juga menandai bubarnya persatua perjuangan. Sjahrir menuduh Tan Malaka
lah dalang dari aksi Kudeta tersebut. Namun hingga pembebasan Tan Malaka dua
tahun kemudian, tuduhan itu tak pernah bisa dibuktikan.[16]
2.4 Detik berakhirnya
konflik
Tan Malaka setelah
berada di penjara selama dua tahunan, hingga ia dibebaskan pada September 1948,
ada yang beranggapan bahwa pembebasan Tan Malaka ini adalah politik dari
perdana Menteri Hatta pada saat itu, yaitu untuk mengimbangi kekuatan Musso
yang baru datang dari Moskow pada Agustus 1948.
Keluar dari
penjara Tan Malaka mendirikan partai Murba untuk merealisasikan
gagasan-gagasannya, namun partai ini terlalu kecil dengan jumlah pendukung yang
kurang pandai dalam manuver terhadap politik. Hingga akhirnya Tan Malaka lebih
memilih untuk menggalang kekuatan tentara dan rakyat di Kediri, untuk
menghadapi Agresi Militer Belanda yang kedua.[17]
Sementara Sjahrir
sebelumnya telah mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 1947. Setelah
penandatangan Linggarjati yang menurut Tan Malaka sangat merugikan Indonesia. Bagi
Sjahrir meskipun dia seorang yang berjuang melalui jalur diplomasi, Perjanjian
Linggarjati merupakan pukulan telak bagi Republik Indonesia yang baru saja
lahir. Kehilangan sebagian besar wilayah yang diperjuangkan bersama-sama dalam
merebut kemerdekaan menjadi suatu kenyataan pahit. Dalam Perjanjian Linggarjati
dan Renville, Belanda akan menuntut kembali hak-hak atas Indonesia. Hal itu
mengakibatkan kelak Belanda akan mendapatkan kesempatan sepenuhnya untuk
menguasai transportasi di daratan dan di lautan Indonesia. Dampak yang
ditimbulkan lebih luas lagi, yaitu Belanda akan kembali menguasai perdagangan,
baik di dalam ataupun luar Indonesia.[18]
Setelah gejolak
politik semakin berlalu, Tan Malaka dengan usianya yang kian menua, tetap
melakukan manuver terhadap gejolak revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Namun kisruh mengenai Tan Malaka berakhir ketika ia berada di Kediri
pada tahun 1949, dia dieksekusi oleh tentara Batalion. [19]
BAB III
KESIMPULAN
Proklamasi kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1945, bagi bangsa Indonesia bukan berarti pengambilalihan kekuasaan
pemerintahan dari tangan penjajah semata. Namun lebih dari itu, merupakan
langkah awal untuk menapak ke masa depan yang baru. Bagi bangsa Indonesia,
proklamasi adalah sebuah momentum untuk mewujudkan cita-cita yang pernah
diangankan, seperti yang tercetus pada Sumpah Pemuda tahun 1928.
Namun yang pasti, baik pemikiran
Sutan Syahrir yang mengutamakan perundingan yang luwes dengan pihak
colonial, maupun Tan Malaka yang
menginginkan angkat senjata sebelum pengakuan kemerdekaan 100%, mereka
memberikan pemahaman bahwa proklamasi bukan akhir dari perdebatan pemikiran
mengenai masa depan Indonesia, karena konflik politik setelahnya pasti kian
meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Poeze.
Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan
Revolusi Indonesia Jilid I. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
2. Poeze.
Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan
Revolusi Indonesia Jilid V. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
3. Mrazek.
Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan
Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
4. Malaka.
Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok:
Diandra Pustaka Indonesia.
5. Anwar.
R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir:
Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
6. Tempo.
2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan:
Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.
[1]
Tan Malaka. Gerilya Politik Ekonomi. Hlm
11
[2]
Poeze Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri
dan Revolusi Indonesia Jilid 1. Hlm xv
[3]
Mrazek Rudolf. Sjahrir: politik dan
pengasingan di Indonesia. Hlm 35-39
[4]
Tempo edisi Tan Malaka: berakhir di
Gunung Wilis. Agustus 2008
[5]
Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan
pengasingan di Indonesia. Hlm 542
[6]
Tempo edisi. Tan Malaka: Sejak Agustus
itu. Agustus 2008
[7]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
da Revolusi Indonesia. Hlm 172
[8]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
da Revolusi Indonesia. Hlm 173
[9]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
da Revolusi Indonesia. Hlm 174
[10]Mrazek
Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan
di Indonesia. Hlm 503
[11]
Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan
pengasingan di Indonesia. Hlm 545
[12]
Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan
pengasingan di Indonesia. Hlm 544
[13]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
dan Revolusi Indonesia. Hlm 218
[14]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
dan Revolusi Indonesia. Hlm 225
[15] Tempo
edisi. Tan Malaka: Trio Minang
Bersimpangan Jalan. Agustus 2008
[16]
Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri,
dan Revolusi Indonesia. Hlm 321
[17]
Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan)
Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008
[18]
Tan Malaka. Gerpolek : gerilya, politik,
ekonomi. Hlm.7
[19]
Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan)
Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar