Minggu, 24 November 2013

Ibu dan Anak Kerbau

Ibu dan Anak Kerbau
Di suatu hari ada ibu kerbau yang sedang menyusui anaknya. Kemudian terdengarlah suara adzan berkumandang dan anak kerbau bertanya kepada Ibunya.
Anak: Bu, itu suara apa? Kenapa orang-orang itu pada beranjak ke masjid bu?
Ibu: itu suara adzan nak, yang menandakan kalau waktu sholat sudah tiba. Jadi para manusia yang beragama islam wajib solat.
Seketika setelah suara adzan selesai berkumandang, kemudian terdengarlah suara komat dan anak kerbau bertanya lagi kepada ibu-nya.
Anak: bu itu suara apa lagi, ko persis sama kaya suara adzan tapi agak beda gitu? Dan mengapa orang-orang itu pada lari menuju masjid?
Ibu: owhh.. itu suara Qomat nak, tanda solat akan didirikan. Ia mereka akan melaksanakan solatlah nak.
Anak: lalu kenapa kita tidak ikut sholat kaya manusia itu bu?
Ibu: kita kerbau nak, kita tidak diwajibkan untuk sholat.
Anak: (ketika sang anak melihat manusia yang nongkrong) lalu mengapa ada orang-orang yang malah pada santai santai aja bu malah pada maen dan nongkrong gitu, padahalkan mereka manusia bu.
Ibu: owh, kalo itu emang manusia, tapi hanya rupanya saja kelakuan dan sifatnya ya sama saja kaya kita.
Anak: owh berarti mereka juga kaya kita yah bu, mereka kerbau.

Jumat, 22 November 2013

Peristiwa Penculikan PM Sjahrir 27 Juni 1946


Peristiwa Penculikan PM Sjahrir
 27 Juni 1946





Makalah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Disusun oleh:
Abdul Amin/1206206272







ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2013




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Paska proklamasi kemerdekaan yang terdengar di Tanah Air 1945, para pemimpin Indonesia harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini, ada dua perbedaan mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi Belanda dan Sekutu, juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Karena menurutnya Bangsa Indonesia yang baru merdeka belum terlalu kuat untuk melawan Sekutu dan Belanda Di lain pihak, bagi Tan Malaka dan kelompok Persatuan Perjuangan, perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan. Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan seratus persen,  menurutnya perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan seratus persen dari Belanda dan Sekutu, tanpa itu nonsense.[1]
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka selama musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.
Ketegangan dua kubu elit ini akhirnya menuai permasalahan dalam negeri, terutama pemberontakan terus disiapkan dan dilakukan oleh kelompok Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan terhadap kepemimpinan Sjahrir dan dan pemerintah Indonesia. Sehingga terjadilah beberapa peristiwa yang terjadi akibat pertentangan tersebuat, diantaranya penculikan PM Sjahrir oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang menentang politik dimplomasinya.

1.2  Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1        Bagaimanakah proses penculikan PM Sjahrir oleh kelompok Persatuan Perjuangan?
1.2.2        Bagaimanakah reaksi dari pemerintah atas peristiwa penculikan PM Sjahrir?
1.2.3        Bagaimanakah  proses menuju PM Sjahrir dibebaskan?
1.3  Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana konflik pemikiran antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata, berdampak kepada ketidakpuasan kelompok Persatuan Perjuangan terhadap PM Sjahrir selaku pemimpin Diplomasi. Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk mempertahankan kemerdekaan.

1.4  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia, seperti kelompok Tan Malaka yang tidak suka dengan metode diplomasi yang diemban oleh pemerintah dan PM Sjahrir. Hal itulah yang memunculkan rangkaian konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.

1.5  Metode Penelitian
Dalam proses pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah, tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI, Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
            Setelah melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah. Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang mendukung dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan isi yang mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga, yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut, masing-masing dari kami memberikan review tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
            Terakhir adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.


BAB II
ISI

2.1 Penculikan PM Sjahrir
            Sekitar pada bulan Juni 1946 PM Sjahrir beserta rombongannya melakukan kunjungan ke Jawa Timur, dan menginap di Solo selama satu malam. Kemudian pada hari berikutnya hendak melakukan perjalanan ke Yogyakarta, untuk siding kabinet yang membahas masalah usul balasan dan dan masalah kabinet koalisi.
            Penculikan Sjahrir digalang oleh Mayor AK Yusuf, ia mengajak Jendral Sutarto yang kemudian dengan cepat menerima ajakan Yusuf, karena satu sisi Yusuf telah membawa perintah tertulis penangkapan PM Sjahrir dari koleganya yaitu Komandan Sudarsono.
Kemudian Sutarto meminta para agen kelompoknya menandatangani perintah penangkapan atas Sjahrir dan kelompoknya, seperti kawannya Sastrolawe, Komandan Batalyon di Tawangmangu, PT Solo dan lain sebagainya. Sehingga para pengawal Sjahrir yakin jika tindakan rombongan Yusuf ini tidak melanggar hukum. Sementara itu Domopranoto yang kala itu menjabat sebagai kepala polisi Solo melontarkan pertanyaan kepada Sutarto, apakah Soedirman dan Soekarno mengetahui tentang hal ini, Domopranoto juga menasehati mereka agar menghadap dulu kepada atasan mereka. Kelompok Sutarto ini mejawab apakah kamu tidak percaya kepada kami, ini adalah sebuah pekerjaan resmi. Akhirnya penangkapan ini mendapatkan persetujuan dari Domopranoto.
            Dengan bekal surat tersebut, ternyata penculikan terhadap PM Sjahrir merupakan hal yang gampang,. Pada jam satu malam di tempat Sjahrir bermalam, Yusuf, Sastrolawe dan para Tentara dari Tawangmangu datang, Polisi yang mengawal PM Sjahrir tidak mampu melawan karena melihat surat perintah penangkapan yang telah mereka perlihatkan.
            Yusuf dan kelompoknya langsung masuk ke kamar tidur Sjahrir. Sastrolawe yang pertama masuk dan berkata “Ada saudara dari Yogya yang ingin menyapa”, lalu Yusuf maju dan serentak Sjahrir bertanya “Ada apa?  Dan Yusuf menjawab, “Saudara mesti saya tangkap , sambil diperlihatkan surat perintah”, kemudia Sjahrir menjawab “bagaimana ini, saya masih dibutuhkan oleh rakyat”. Namun akhirnya Sjahrir dibawa tanpa tekanan, paksaan dan kekerasan sedikitpun. Sjahrir dibawa layaknya seseorang yang tidak diculik, dia dikawal dengan sopan.
            Sjahrir dibawa beserta rombongannya, anatara lain para menteri seperti Darmawan Mangunkusumo, Sudarsono dan lain sebagainya, Mereka semua menginap di Hotel Merdeka. Pada saat proses penculikan Sjahrir para menteri ini mendengar peristiwa tersebut, namun sayangnya hal itu sudah terlambat, Hotel Merdeka sudah dikepung.
Namun, ada dua orang yang lolos sewaktu penangkapan, yaitu Sudarsono yang lolos dengan memanjat tembok dan Subadio dengan menggunakan sebatang bambu berhasil menyebrangi kali yang terdapat dibelakang Hotel tersebut.
Pada beberapa hari setelah penculikan berhasil, Sjahrir ditempatkan di Paras Solo, dan dimasukan ke dalam Bungalo Susuhunan, yang dikawal oleh Wakil Komandan Batalyon Soebagyo. Kemudian Yusuf dan kartono mengatakan kepada Iwa dan Yamin bahwa Sjahrir sudah disingkirkan. Akhirnya kemudian Yusuf menceritakan semua ini kepada hampir seluruh kelompok Persatuan Perjuangan, tak terkecuali Tan Malaka.
Setelah Yusuf menceritakan semuanya, akhirnya semua harus ikut berembug berfikir dan mempertimbangkan berbagai akibat dari peristiwa tersebut, yang dianggap terlalu dini. Dalam pembicaraan di Solo ini ada juga rasa menyesal dari para agen, seperti Tan Malaka dan Yamin yang tak tahu menahu masalah penculikan Sjahrir.
Pada tanggal 28 Juni 1946 pukul sepuluh pagi, PM Sjahrir sebenarnya ditunggu untuk menghadiri siding kabinet, namun ternyata ia tidak lekas muncul juga. Karena tidak ada berita dari Solo mengenai ketidak hadiran Sjahrir, maka seketika berita penculikan Sjahrir merebak luas.
            Dalam desas desus berita di Yogya, mengabarkan bahwa dalang dari penculikan Sjahrir adalah komplotan Tan Malaka. Berita ini mucul di Yogya karena perintah dari Sudarsono dan Subadio yang lolos dari penculikan. Namun, keterangan yang diceritakan oleh kedua orang ini tidak ada kejelasan mengenai siapa pelaku dan latar belakangnya.
            Ketika berita ini merebak keseluruh penjuru tanah air, para tokoh-tokoh besar republik merasa khawatir akan akibat-akibat yang merugukan dalam hal hubungan Internasional. Sehingga Amir meminta Sukarno untuk membantu mencari jejak keberadaan Sjahrir melalui radio. Namun masukan ini agaknya terlalalu awal.
            Pada tanggal 28 Juni kabinet juga mengambil keputusan segera memberlakukan Keadaan Darurat Perang untuk seluruh Indonesia. Keputusan ini ditandatangani  oleh Sukarno dan Amir, atas nama Dewan Menteri. Ini merupakan sebuah keputusan yang memiliki arti simbolis, yang mencerminkan suasana krisis dan ketegangan, tetapi pemerintah juga menginginkan agar dalam situasi seperti ini persatuan tetap dijaga.
2.2 Manuver Sekitar Penculikan
            Dalam priode ini nampaknya peran yang masih menjadi misteri adalah Sudarsono yang merupakan atasan dari Yusuf, namun merupakan orang yang termasuk dalam kelompok PM Sjahrir. Kanapi seseorang yang disisihkan oleh Sudarsono karena kepentingan yang dilakukan oleh Yusuf menceritakan peristiwa tersebut kepada Sudarsono, namun Sudarsono hanya terlihat tersenyum mendengar cerita dari Kanapi. Kesannya Sudarsono sekurang-kurangnya telah mengetahui rencana penculikan tersebut.
            Berita tentang hilangnya PM Sjahrir sudah semakin meluas, bahaya timbulnya aksi tak terkendali dari berbagai kalangan juga semakin besar. Sehingga pemerintah harus segera mengambil keputusan, akhirnya Presiden Sukarno pada tengah malam menandatangani Maklumat No. 1 tahun 1946.
            “Berhubung dengan kejadian-kejadian dalam negeri yang membahayakan keselamatan Negara dan perjuangan kemerdekaan kita, maka kami Presiden republik Indonesia dengan persetujuan Kabinet dalam sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946 mengambil kekuasaan pemerintah sepenuhnya untuk sementara waktu sampai keadaan biasa yang memungkinkan kabinet dan lain-lain badan resmi bekerja sebagaimana mestinya”
            Kelompok Persatuan Perjuangan tersenyum mendengar maklumat ini, mereka berharap Sukarno nantinya akan bersimpati kepada haluan politik mereka. Para rakyat pun seluruhnya memberikan kepercayaan kepada Sukarno untuk memegang kembali seluruh kekuasaan negeri, karena rakyat menganggap kiprah para kabinet kurag begitu jelas.
2.3 Sukarno Bertindak
            Hari sabtu siang Sukarno memiliki waktu untuk mengadakan suatu Konferensi pers. Dalam kesempatan ini ia menjelaskan tentang keputusan untuk mengambilalih seluruh kekuasaan di tangannya. Karena alasan situasi yang sedang kritis.
            Dalam konferensi ini ia menegaskan juga bahwa tuntutanya masih tetap kemerdekaan seratus persen untuk seluruh Indonesia. Ia memberi penjelasan mengenai usul balasan bersama Amir, yang mencantumkan pengakuan kemerdekaan seratus persen masih menjadi tuntutan.
            Sukarno meminta agar para tentara bekerja dan memenuhi tugasnya masing-masing. Seruan yang menarik ini tentunya merujuk pada masalah penculikan PM Sjahrir, yang dalam konferensi pers ini sedikitpun tidak disebut.
            Sementara usaha-usah pencarian PM Sjahrir yang dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah ternyata masih tetap tanpa hasil. Setelah itu tutup mulut pun terus berjalan sembari mengharapkan penyelesaian dengan cara diam-diam. Setelah selang beberapa waktu, dikeluarka pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Sukarno.
            “pada tengah malam tanggal 27 menjelang 28 Juni PM Sjahrir seropbot oleh satu segerombolan dari tempat penginapannya di Solo. Beserta para perdana menteri lainnya. Ini adalah satu perbuatan yang jahat sekali, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh pemerintah republik Indonesia. Perbuatan itu nyata ujungnya untuk melemahkan kekuatan pemerintah kita dimata dunia Internasional, sehingga Belanda dapat menarik keuntungan dari pada itu dalam perundingan tentang kemerdekaan Indonesia. Dalam masa yang sangat genting ini, dimana banyak diantara kita yang kena perangkap Nica, untuk melemahkan kita dari dalam, maka diharap kepada segala rakyat yang berpikir sehat supaya berdiri bulat dibelakang pemerintah, dan berusaha supaya Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan lainnya itu dibebaskan”.
            Demikian isi pernyataan tersebut jelas sekali, ruang untuk kompromi sudah tertutup. Para pelaku digolongkan  sebagai kaki tangan NICA, lebih busuk dari itu tidak bisa lagi. Dan Sukarno yang menandatangani perintah itu sudah se-ia se-kata mengenai penculikan Sjahrir.
            Hal inipun membuat genting para rombongan yang memiliki rencana dan telah menahan Sjahrir. Sutarto dengan perasaan yang tidak senang menasihati dan memberi peringatan keras terhadap Yusuf.
            Tidak jelas, apakah sesudah, sebelum, selagi rapat di Magelang, dilaporkan kepada Amir tentang penahan Sjahrir di Paras, dan tentang adanya surat perintah Sudarsono yang mengawali penculikan. Turunan surat perintah itu juga disampaikan kepada Amir.
            Dalam aksi laporan ini diduga oleh Sutarto yang sedang kalang kabut dengan ke khawatirannya, selain memberi informasi tersebut kepada Sukarno, ada lagi yang bisa ia berikan. Ia bisa mengurus kembalinya Sjahrir dengan selamat. Dan sebagai timbal baliknya peran aktif Sutarto dalam penculikan tersebut dilupakan.
            Setelah Sukarno, Hatta, Amir yang rapat bersama Sudirman di Magelang, tiga pemimpin ini menyerahkan surat turunan perintah Sudarsono kepada yusuf diserahkan ke Sudirman. Dan Sudirman menerima perintah untuk mengatur pembebasan Sjahrir.
            Namun beberapa kali Sudirman sebenarnya melakukan teguhan terhadap kasus ini, seperti demi kepentingan terselesaikannya masalah dengan cepat, pemerintah harus menghilangkan kesan bahwa penculikan merupakan persoalan penduduk Solo.
            Setelah itu pada hari sabtu pagai Sudirman berangkat ke Solo, dan Sudirman juga mengundang banyak aktivis-aktivis revolusi termasuk Sudarsono, namun tanpa memberi tahu ada hal apa yang akan dibicaarakan.
            Di Rumah Sudirman terjadilah sebuah perkumpulan, Sudirman membagika kertas surat perintah dari Sukarno mengenai masalah Sjahrir. Ia juga berpidato dan menjelaskan panjang lebar mengenai permasalahan yang sedang melanda negerinya.
            Ia mengatakan bahwa penculikan itu sudah sering terjadi, itu perbuatan dari suatu kelompok kecil yang memberikan akibat yang serius. Penculikan Sjahrir dan kawan-kawannya menghadapkan Negara pada keadaan bahaya. Oleh karena itu tidak bisa dan tidak boleh dibiarkan saja. Ini merupakan perbuatan musuh musuh dalam selimut.
            Sebuah Negara yang Perdana Menterinya diculik akan kehilangan mukanya, maka pantaslah jika Belanda berkata “lihat bangsa Indonesia belum matang untuk merdeka”. Ada dugaan kelompok yang melakukan penculikan ini adalah kelompok yang merasa dirinya orang kiri yang lebih dari kiri, lebih radikal daripada radikal. Tanpa disadari mereka melakukan kerjasama dengan koloni ke lima dari NICA.
            Barangkali mereka mengira dengan perbuatannya Republik akan diperkuat, artinya dilihat dari subyektif niat mereka memiliki arti yang baik. Namun dari segi objektif aksi mereka membawa akibat yang buruk bagi Negara. Posisi Negara semakin lemah, jalan bagi musuh untuk memasuki Negara kita semakin terbuka lebar-lebar.
2.4 Pembebasan PM Sjahrir
            Pada pukul empat pagi hari senin tanggal 1 Juli dengan tak disangka-sangka Sjahrir muncul di Istana Presiden. Sukarno memeluk Sjahrir, istrinya ibu Fatmawati membuatkan kopi untuk para pengawal Sjahrir. Di depan mereka Sukarno berkata “biar dunia Internasional tahu, bahwa Republik Indonesia masih mempunyai pemuda. Pemuda yang memiliki tanggung jawab tak hanya digaris depan, namun juga dibelakang. Republik masih mempunyai seorang perdana menteri.
            Pembebasan Sjahrir pun sudah gemar dibicarakan di koran-koran, Sjahrir juga berbicara di radio sedikit mengenai pengalamannya dalam peristiwa penculikan, bahwa kekacauan yang terjadi karena penculikanya hanyalah menguntungkan kekuatan yang berbahaya dan pihak Avonturier yang hendak melumpuhkan perjuangan.
            Akhirnya surat perintah penangkapan terhadap kelompok yang telah menculik Sjahrir ditandatangani dan sederet nama yang diduga terlibat sebagai tersangka sudah tercatat, diantaranya Sudarsono, Yusuf dan lain sebagainya.
           






BAB III
KESIMPULAN

Pertentangan antara Tan Malaka dan kelompoknya dengan pemerintah dan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri makin memuncak, dan mengakibatkan diculiknya PM Sjahrir dan para menteri-menteri yang berada di Solo  pada 27 Juni 1946, yang diculik oleh Mayor AK Yusuf dan komplotannya.
Akibat dari peristiwa tersebut begitu jelas berdampak pada kondisi yang dialami oleh Negara republic Indonesia, pantas jika Belanda berkata “lihat Indonesia belum siap merdeka”.  Diduga agen penculikan Sjahrir ialah orang-orang yang melakukan kerjasama dengan agen koloni ke lima NICA.
Akibat peristiwa tersebut maka kekuasaan Negara diambilalih oleh Presiden berdasarkan maklumat No. 1 tahun 1946. Namun Presiden menekankan dia tidak ingin bertindak dictator, dia melakukan suatu kebijakan pasti berdasarkan Undang-Undang Dasar.
Setelah beberapa waktu berselang Presiden juga menyerukan melalui perintahnya  agar PM Sjahrir segera dilepaskan. Dan akhirnya pada tanggal 1 Juli PM Sjahrir mengejutkan Sukarno di Istana Merdeka. Ia tiba-tiba muncul bersama para pengawal yang mengantarnya.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Poeze. Hary A.2009 Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I dan II.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2.      Mrazek. Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
3.      Malaka. Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok: Diandra Pustaka Indonesia.
4.      Anwar. R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir: Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
5.      O.E. Engelen, Aboe Bakar Loebis dkk. 1996. Lahirya Satu Bangsa dan Negara. Jakarta UI Pers
6.      Dekker Nyoman. 1989. Sejarah Revolusi Nasional. Jakarta: Balai Pustaka
7.      Tempo. 2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan: Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.



Konflik Strategi Politik : Sutan Sjahrir dan Tan Malaka 1945-1949



Konflik Strategi Politik : Sutan Sjahrir dan Tan Malaka  
1945-1949





Makalah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Nasional
Disusun oleh:
                                            Abdul Amin/1206206272







ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2013





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia, Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
Proklamasi serentak terdengar ditelinga massa, hal ini terlaksana karena menyerahnya Jepang, disusul juga dengan kedatangan Sekutu disertai dengan keinginan kembali Belanda memegang kekuasaan di Indonesia, pasca proklamasi kemerdekaan yang mengaung di Tanah Air, para pemimpin Indonesia harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini, ada dua perbedaan mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi Belanda dan Sekutu, juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Di lain pihak, bagi Tan Malaka, perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan. Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan 100%,  menurutnya perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan 100% dari Belanda dan Sekutu, tanpa itu nonsense.[1]
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka selama musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.

1.2  Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1        Bagaimanakah awalmula konflik antar Sjahrir dan Tan Malaka ?
1.2.2        Bagaimana puncak konflik Sjahrir dan Tan Malaka?
1.2.3        Bagaimanakah akhir dari perseteruan duo Minang Sjahrir dan Tan Malaka?

1.3  Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana terjadinya konflik pemikiran antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata dan peperang. Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk mempertahankan kemerdekaan.

1.4  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia, seperti datangnya kembali pihak kolonial. Hal itulah yang memunculkan rangkaian konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.

1.5  Metode Penelitian
Dalam proses pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah, tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI, Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
            Setelah melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah. Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang mendukung dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan isi yang mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga, yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut, masing-masing dari kami memberikan review tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
            Terakhir adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.



BAB II
ISI
2.1 Riwayat Singkat
            Sjahrir dan Tan Malaka merupakan pemikir dan pejuang yang berasal dari ranah Minangkabau. Sjahrir dilahirkan pada tahun 1909 lebih muda sekitar 15 tahun dari Tan Malaka yang lahir sekitar tahun 1894[2]. Sjahrir dan Tan malaka sama-sama mengenyam pendidikan barat yang kemudian membentuk pola pemikiran mereka (ideologi). Pada tahun 1915 Sjahrir masuk ke Sekolah terbaik di Medan Europeesche Lagere School (ELS), kemudian Sjahrir melanjutkan sekolahnya di MULO hingga lulus pada tahun 1923, dan tiga tahun berikutnya dia melanjutkan ke sekolah tersebut untuk jenjang yang berikutnya.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana, Sjahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme.[3]
Sedangkan Tan Malaka Pada tahun 1908 ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock dan melanjutkan ke Rijks Kweekschool di Harleem Belanda pada tahun 1913, Selebihnya ia mengembara bersama ideologinya.[4]
2.2 Awal pertemuan
            Sekitar pada tahun 1945 pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia terdengar di telinga massa, beberapa pekan setelah itu di Serang, Banten, Tan Malaka bertemu dengan Sjahrir untuk berkompromi mengenai masalah kepemimpinan di Republik Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya. Hal ini adalah kali pertama Tan Malaka sang tokoh radikal berembug dengan tokoh social-demokrat seperti Sjahrir.
            Dalam pertemuan ini Tan Malaka berusaha mengajak Sjahrir untuk bersama-sama menyingkirkan Soekarno sebagai pemimpin Revolusi di Indonesia. Disini Tan Malaka ingin menjalankan tesis Trotsky tentang “revolusi terus menerus”, menurut Trotsky revolusi harus  terus menerus tanpa jeda sedikitpun. Ia tak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti di Rusia dan Indonesia revolusi berlangsung dalam dua tahap: pertama, tahap Borjuis dan Demokratis dan kemudian baru tahap Sosialis.
            Bagi Negara yang saat itu setengah Feodal dan setengah Kolonial, kaum Borjuis terlampau lemah untuk menyelesaikan agenda revolusi sebuah Negara. Menurutnya kaum Proletarlah yang harus melaksanakan revolusi itu.  Oleh karena itu, niat Tan Malaka yang melihat dirinya adalah wakil dari kaum ploretar, harus menggantikan Soekarno wakil dari kaum Borjuis.
Namun, justru tawaran Tan Malaka ini direspon Sjahrir dengan jawaban yang “meremehkan“. Jika Tan Malaka bisa menunjukan pengaruhnya sebesar 10 % saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat tanah air, maka Sjahrir akan ikut bersekutu dengannya”. Karena dikalangan rakyat Tan Malaka tak begitu sebanding dengan sosok Bung Karno.[5]
            Dapat dilihat secara tersirat dalam kata-kata Sjahrir ada sikap meremehkan Tan Malaka, konon Sjahrir juga malah menasihati Tan Malaka agar ia berkeliling Jawa terlebih dahulu sebelum ia mengambil sikap dari ucapannya tersebut. Pertemuan di Serang, Banten, itu nampaknya lebih terlihat seperti perselisihan, bukanlah perundingan untuk sebuah kesepakatan atau kerjasama.[6]

2.3 Mulai memanasnya konflik
Pada tanggal 10 November 1945, Kementerian Penerangan mengumumkan penerbitan sebuah buklet yang ditulis oleh Sjahrir. Buklet itu berjudul ”Perjuangan Kita”. Tulisan itu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran politik di Indonesia, terutama di kalangan pemuda. Soebadio Sastrosatomo, seorang pengikut Sjahrir bahkan berpandangan bahwa kalau Maklumat Politik tanggal 1 November 1945 merupakan pedoman untuk negara, maka buklet tersebut dimaksudkan untuk rakyat dan masyarakat Indonesia.[7]
Tulisan tersebut merupakan diagnosis masalah-masalah kontemporer Indonesia yang paling jelas terartikulasikan dan satu-satunya program yang koheren bagi pengembangan perjuangan nasionalis selama tahun-tahun konflik fisik dengan Belanda. Selama revolusi fisik, isi program Sjahrir hanya bisa dibandingkan dengan program Tan Malaka dalam Persatuan Perjuangan. Soekarno sendiri tidak mengeluarkan pernyataan publik yang luas sebagai pandangannya sendiri dalam fase perjuangan nasional ini. Dalam kaitan tersebut ada sebuah  pandangan bahwa sikap Soekarno tersebut sangat kontras dengan sikapnya pada periode sebelum dan sesudah fase ini (revolusi fisik) sebagai seorang ideolog.
Dalam buklet itu, Sjahrir menegaskan, terutama kepada pemuda untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab, berjuang dengan segenap jiwa revolusionernya. Ia juga menyerukan untuk menghindari kekerasan anti-asing dan anti-indo, serta mengerahkan kekuatan untuk membentuk pemerintahan yang demokratis. Ide tentang revolusi demokratis itu dikemukakan Sjahrir untuk melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas akibat pengaruh pendudukan Jepang.[8]
Revolusi nasional baginya bukanlah yang nomor satu, akan tetapi demokrasilah yang utama. Bahkan revolusi nasional dianggapnya hanya buntut dari revolusi demokrasi. Perjuangan demokrasi yang dicita-citakannya itu harus dimulai dengan membersihkan diri dari noda-noda fasisme Jepang, yaitu dengan menyingkirkan orang-orang yang sudah menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis Jepang. Sjahrir mengatakan bahwa gejolak-gejolak politik yang timbul di dalam negeri Indonesia itu tidak terlepas dari pemerintah negara RI itu sendiri. Padahal katanya, kalahnya Jepang atas Sekutu serta terlambat datangnya tentara Sekutu untuk mengganti Jepang sebetulnya memberikan kesempatan yang baik bagi pemerintah untuk menyusun kekuasaan negara. Hal tersebut tidak bisa tercipta oleh karena mereka yang berada di pemerintahan adalah para kolaborator Jepang.[9]
Menurut Sjahrir, kedudukan Indonesia pada waktu itu sangatlah lemah. Indonesia berada di daerah yang dipengaruhi oleh kekuatan imperialisme-kapitalisme Amerika dan Inggris. Oleh karena itu, menjadi tidak bijaksana kalau Indonesia memusuhi dua kekuatan tersebut. Nasib Indonesia menjadi tergantung pada keadaan dunia internasional, sehingga harus menyesuaikan diri dengannya. Diplomasi yang luwes dan pintar menjadi jalan satu-satunya untuk menjamin kemerdekaan Indonesia agar Amerika dan Inggris tidak mendukung penuh Belanda.
Setelah melalui usaha-usaha yang panjang, akhirnya Sjahrir tanggal 14 November 1945 diangkat menjadi perdana menteri dan segera mengumumkan kabinetnya. Naiknya Sjahrir sebagai perdana menteri menunjukkan kepada Belanda bahwa republik ini bukan bentukan Jepang. Sehingga dapat menaikkan posisi diplomatik Indonesia di hadapan Sekutu dan dunia internasional.[10]
Keberhasilan Sjahrir menduduki jabatan sebagai perdana menteri tidak serta-merta menghilangkan gejolak-gejolak yang ada. Persoalan demi persoalan muncul akibat ketidakpuasan terhadap kabinet yang baru terbentuk itu.  Terdapat dua hal yang menjadi fokus permasalahan. Pertama, kabinet tersebut jelas tidak mewakili semua golongan, bahkan hanya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dari Partai Sosialis dan beberapa orang profesional yang buta politik. Kedua, isi program kabinet tersebut yang mengutamakan diplomasi daripada perlawanan bersenjata.
Salah satu kelompok yang keras menentang kebijakan-kebijakan Sjahrir itu adalah kelompok Tan Malaka. Kelompok penentang ini terutama sekali para pemuda yang menyatakan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukan merupakan sesuatu yang harus dirundingkan. Kemerdekaan itu adalah seratus persen milik bangsa Indonesia. Kecenderungan seperti itu semakin memuncak setelah terjadinya pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Para pemuda dan rakyat rela dan berani mempertaruhkan nyawa. Walaupun hanya bersenjata seadanya untuk melawan tentara Sekutu.
Tan Malaka yang melihat secara langsung peristiwa itu menganggap bahwa semangat yang muncul pada waktu itu merupakan tanda untuk dapat menggerakkan massa guna merealisasikan revolusi total. Baginya, pertempuran-pertempuran amat penting dilakukan dengan pengorganisasian serta kepemimpinan yang kuat. Bukan semata-mata hanya dilakukan dengan perundingan-perundingan.[11]
Pada tanggal 2 Desember 1945, tiga minggu setelah diterbitkannya ”Perjuangan Kita”, Tan Malaka mengeluarkan tiga brosur yang berjudul ”Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi”. Namun, Muslihat yang paling terlihat menentang diplomasi Sjahrir. Brosur itu berisi ajakan kepada semua golongan atau lapisan untuk bersatu mengadakan perlawanan bersama revolusi total, lengkap dengan strategi dasarnya. Strategi itu antara lain perlunya membentuk laskar rakyat, pembagian tanah pada si miskin, hak buruh dalam mengontrol produksi, membuat rencana ekonomi perang, pengusiran tentara asing, dan perlucutan senjata Jepang. Kunci dari strategi itu adalah bahwa revolusi mempunyai tiga segi, yaitu politik, ekonomi, dan militer.[12]
Ide revolusi Tan Malaka semakin mendapatkan sambutan, terutama di kalangan pemuda. Hal itu terutama sesuai dengan semangat zaman yang sedang menggelora. Mereka memandang ide Tan Malaka merupakan alternatif baru dalam revolusi. Apalagi kemudian bila dibandingkan dengan ”Perjuangan Kita” milik Sjahrir yang mengutamakan perundingan atau jalur diplomasi. Ide Tan Malaka yang tertulis dalam ”Muslihat” adalah jawaban yang radikal atas tulisan Sjahrir tersebut. Maka bukan suatu yang salah kalau Tan Malaka memberikan judul tulisannya dengan ”Muslihat”.
Pada tanggal 15 Januari 1946 dibentuklah “persatuan perjuangan” dan langsung digalang oleh Tan Malaka dan sekutunya untuk proses kedepan.  Dalam kongresnya di Solo tanggal 15-16 Januari 1946, yang dihadiri oleh lima ratus orang pengunjung yang merupakan representasi dari 141 organisasi.
 Persatuan Perjuangan memutuskan sebuah program politik yang disebut ”Minimum Program” yang terdiri atas tujuh pasal. ”Minimum Program” itu didasarkan pada pidato Tan Malaka pada kongres sebelumnya di Purwokerto tanggal 3-5 Januari 1946 yang merupakan kemunculan pertamanya di depan massa setelah ia meninggalkan Indonesia pada 1922. Adapun isi ”Minimum Program” itu antara lain; berunding atas pengakuan kemerdekaan seratus persen, pemerintahan rakyat (dalam arti sesuainya haluan pemerintah dengan kemauan rakyat), tentara rakyat (dalam arti sesuainya haluan tentara dengan kemauan rakyat),  melucuti tentara Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita dan menyelenggarakan pertanian (kebun), menyita dan menyelenggarakan perindustrian musuh (pabrik, bengkel, tambang, dan lain sebagainya).[13]
Program itu, menurut Tan Malaka, juga berisikan perjuangan anti-kapitalis dan anti-imperialis yang dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh rakyat Ploretar. Jelas bahwa pandangan Tan Malaka yang termaktub dalam ”Minimum Program” Persatuan Perjuangan sangat bertentangan dengan ide Sjahrir dalam ” Perjuangan Kita”. Terutama sekali pasal satu tersebut. Pasal ini menantang kebijakan damai yang diajukan Sjahrir terhadap Inggris dan mencoba memperoleh dukungan mereka dalam perundingan-perundingan dengan Belanda. Hal itu tidak terlepas dari pandangan Tan Malaka yang menganggap persatuan dalam menyelesaikan revolusi adalah perjuangan untuk menghadapi musuh bersama. Hal itu dilakukan hingga tercapai kemerdekaan seratus persen. Baginya, bukan persatuan untuk berkompromi yang berarti berkhianat kepada kemerdekaan seratus persen sebagaimana amanat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Dalam silang sengkarut pada masa pertemuan di Purwokerto, muncul juga sosok orang yang cukup terkenal dikalangan elit politik pada saat itu, yaitu Muhammad Yamin, yang juga merupakan aktivis dari Persatuan Perjuangan. Sikapnya yang sering tanpa konsultasi dengan para pemimpin Persatuan Perjuangan, seperti halnya ia sering secara terbuka mengkritik politik diplomasi dari Sjahrir yang dengan seribu satu kata diplomasinya disalahkan.[14]
Sikap frontalnya yang terlampau berani ini kian memanaskan situasi politik yang bersebrangan ini, namun Tan Malaka memaafkan terlalu frontalnya Yamin terhadap pemerintah. Tapi situasi tak terelakkan dan kian memanas, hingga situasi ini berujung pada mundurnya Sjahrir dari kursi Perdana Menteri pada tanggal 28 Februari 1946.[15]
Namun, mundurnya Sjahrir dari kursi jabatannya itu tak berlangsung lama, karena tak lama kemudian Soekarno kembali menunjuk Sjahrir untuk melanjutkan diplomasinya. Keputusan tersebut membuat rombongan Persatuan Perjuangan kembali memanas. Saking marahnya, bahkan para pemuda persatuan ini sempat menembaki mobil yang dikendarai Amir Sjarifudin ketika akan masuk Istana Negara.
Situasi kian memanas, bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir Sjarifudin memerintahkan para tentara untuk menangkap Tan Malaka dan tokoh Persatuan Perjuangan lainnya.  Ini semua karena intrik demi intrik disusun oleh pemerintahan Sjahrir untuk menjatuhkan Tan Malaka dari panggung politik yang baru dilakoninya. Sebenarnya hal ini direaksi dengan cepat oleh golongan Persatuan Perjuangan, Soedirman dengan cepat membalasnya dengan memerintahkan pasukanya untuk menangkap Sjahrir. Namun, atas kunjungan Soekarno yang meminta agar para rombongan Persatuan perjuan untuk melepaskan Sjahrir. Akhirnya Sjahrir dilepaskan atas perintah dari Soekarno tersebut.
Sementara situasi kian memanas, Tan Malaka dituduh mengacau keadaan, serta bertindak menggelisahkan pemerintahan Soekarno dan akan mengkudetanya. Karena itulah Tan Malaka ditangkap pada 17 Maret 1946. Dia hanya hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selang empat bulan kemudian, beberapa anggota Persatuan Perjuangan juga ditangkap atas tuduhan keterlibatan mereka dalam upaya kudeta yang gagal pada 3 Juli 1946. Insiden tersebut juga menandai bubarnya persatua perjuangan. Sjahrir menuduh Tan Malaka lah dalang dari aksi Kudeta tersebut. Namun hingga pembebasan Tan Malaka dua tahun kemudian, tuduhan itu tak pernah bisa dibuktikan.[16]

2.4 Detik berakhirnya konflik
            Tan Malaka setelah berada di penjara selama dua tahunan, hingga ia dibebaskan pada September 1948, ada yang beranggapan bahwa pembebasan Tan Malaka ini adalah politik dari perdana Menteri Hatta pada saat itu, yaitu untuk mengimbangi kekuatan Musso yang baru datang dari Moskow pada Agustus 1948.
            Keluar dari penjara Tan Malaka mendirikan partai Murba untuk merealisasikan gagasan-gagasannya, namun partai ini terlalu kecil dengan jumlah pendukung yang kurang pandai dalam manuver terhadap politik. Hingga akhirnya Tan Malaka lebih memilih untuk menggalang kekuatan tentara dan rakyat di Kediri, untuk menghadapi Agresi Militer Belanda yang kedua.[17]
            Sementara Sjahrir sebelumnya telah mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 1947. Setelah penandatangan Linggarjati yang menurut Tan Malaka sangat merugikan Indonesia. Bagi Sjahrir meskipun dia seorang yang berjuang melalui jalur diplomasi, Perjanjian Linggarjati merupakan pukulan telak bagi Republik Indonesia yang baru saja lahir. Kehilangan sebagian besar wilayah yang diperjuangkan bersama-sama dalam merebut kemerdekaan menjadi suatu kenyataan pahit. Dalam Perjanjian Linggarjati dan Renville, Belanda akan menuntut kembali hak-hak atas Indonesia. Hal itu mengakibatkan kelak Belanda akan mendapatkan kesempatan sepenuhnya untuk menguasai transportasi di daratan dan di lautan Indonesia. Dampak yang ditimbulkan lebih luas lagi, yaitu Belanda akan kembali menguasai perdagangan, baik di dalam ataupun luar Indonesia.[18]
            Setelah gejolak politik semakin berlalu, Tan Malaka dengan usianya yang kian menua, tetap melakukan manuver terhadap gejolak revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun kisruh mengenai Tan Malaka berakhir ketika ia berada di Kediri pada tahun 1949, dia dieksekusi oleh tentara Batalion. [19] 


BAB III
KESIMPULAN
          Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, bagi bangsa Indonesia bukan berarti pengambilalihan kekuasaan pemerintahan dari tangan penjajah semata. Namun lebih dari itu, merupakan langkah awal untuk menapak ke masa depan yang baru. Bagi bangsa Indonesia, proklamasi adalah sebuah momentum untuk mewujudkan cita-cita yang pernah diangankan, seperti yang tercetus pada Sumpah Pemuda tahun 1928.
Namun yang pasti, baik pemikiran Sutan Syahrir yang mengutamakan perundingan yang luwes dengan pihak colonial,  maupun Tan Malaka yang menginginkan angkat senjata sebelum pengakuan kemerdekaan 100%, mereka memberikan pemahaman bahwa proklamasi bukan akhir dari perdebatan pemikiran mengenai masa depan Indonesia, karena konflik politik setelahnya pasti kian meningkat.
           

DAFTAR PUSTAKA
1.      Poeze. Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2.      Poeze. Hary A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid V.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
3.      Mrazek. Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
4.      Malaka. Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok: Diandra Pustaka Indonesia.
5.      Anwar. R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir: Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
6.      Tempo. 2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan: Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.



[1] Tan Malaka. Gerilya Politik Ekonomi. Hlm 11
[2] Poeze Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 1. Hlm xv
[3] Mrazek Rudolf. Sjahrir: politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 35-39
[4] Tempo edisi Tan Malaka: berakhir di Gunung Wilis. Agustus 2008
[5] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 542
[6] Tempo edisi. Tan Malaka: Sejak Agustus itu. Agustus 2008
[7] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 172
[8] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 173
[9] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, da Revolusi Indonesia. Hlm 174
[10]Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 503
[11] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 545
[12] Mrazek Rudolf. Sjahrir Politik dan pengasingan di Indonesia. Hlm 544
[13] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 218
[14] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 225
[15] Tempo edisi. Tan Malaka: Trio Minang Bersimpangan Jalan. Agustus 2008
[16] Poeze Harry A. Tan Malaka: Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Hlm 321
[17] Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008
[18] Tan Malaka. Gerpolek : gerilya, politik, ekonomi. Hlm.7
[19] Tempo edisi. Tan Malaka: (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi. Agustus 2008