Peristiwa Penculikan PM Sjahrir
27 Juni 1946
|
Makalah
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Disusun
oleh:
Abdul Amin/1206206272
ILMU SEJARAH
FAKULTAS
ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS
INDONESIA
DEPOK,
2013
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Paska proklamasi kemerdekaan yang terdengar di Tanah Air 1945,
para pemimpin Indonesia harus mengambil sikap. Pada awal-awal kemerdekaan ini,
ada dua perbedaan mendasar sikap para pemimpin Indonesia dalam menanggapi
Belanda dan Sekutu, juga tidak terlepas pada bagaimana bentuk dan strategi
perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang harus dilakukan.
Setidaknya ada dua pendapat tentang bentuk dan strategi perjuangan
nasional. Di satu sisi, ada Sjahrir dan kelompoknya yang mengutamakan
pentingnya diplomasi dengan Sekutu, dialog dan membuat kesepakatan atau
perundingan adalah strategi mempertahankan kemerdekaan. Karena menurutnya
Bangsa Indonesia yang baru merdeka belum terlalu kuat untuk melawan Sekutu dan
Belanda Di lain pihak, bagi Tan Malaka dan kelompok Persatuan Perjuangan,
perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan.
Menurut Tan Malaka, diplomasi tidak akan menghasilkan kemerdekaan seratus
persen, menurutnya perundingan hanya
bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan seratus persen dari Belanda
dan Sekutu, tanpa itu nonsense.
Oleh karena itu, jika pemerintah Republik masih sadar akan
proklamasi 17 Agustus 1945, dan besarnya pengorbanan rakyat serta pemuda yang
tidak mau begitu saja dibawa kembali pada status penjajahan Belanda. Maka
selama musuh belum hengkang dari Indonesia, peperangan dengan mengusir penjajah
merupakan strategi awal yang harus dipilih, bukan berdiplomasi.
Ketegangan dua kubu elit ini akhirnya menuai permasalahan dalam
negeri, terutama pemberontakan terus disiapkan dan dilakukan oleh kelompok Tan
Malaka dan Persatuan Perjuangan terhadap kepemimpinan Sjahrir dan dan
pemerintah Indonesia. Sehingga terjadilah beberapa peristiwa yang terjadi
akibat pertentangan tersebuat, diantaranya penculikan PM Sjahrir oleh kelompok
Persatuan Perjuangan yang menentang politik dimplomasinya.
1.2 Perumusan Masalah
Pada bagian ini penulis akan menjabarkan beberapa perumusan masalah yang
akan menjadi isi bahasan pada makalah, antara lain :
1.2.1
Bagaimanakah proses penculikan PM
Sjahrir oleh kelompok Persatuan Perjuangan?
1.2.2
Bagaimanakah reaksi dari pemerintah atas
peristiwa penculikan PM Sjahrir?
1.2.3
Bagaimanakah proses menuju PM Sjahrir dibebaskan?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup masalah pada makalah ini adalah bagaimana konflik pemikiran
antara dua strategi yang muncul untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara
diplomasi/berunding atau dengan angkatan bersenjata, berdampak kepada ketidakpuasan
kelompok Persatuan Perjuangan terhadap PM Sjahrir selaku pemimpin Diplomasi.
Penulis memilih tema ini karena menurut penulis peristiwa ini juga merupakan
bagian dari sejarah Indonesia di masa perjuangan yang penting untuk
mempertahankan kemerdekaan.
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan
dari penulisan makalah Sejarah Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dapat memperoleh informasi mengenai
permasalahan yang dimana dalam masa tersebut, konflik dihadapi bukan dengan
kaum penjajah, namun antara para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Banyak peristiwa yang mengganggu kestabilan bangsa Indonesia,
seperti kelompok Tan Malaka yang tidak suka dengan metode diplomasi yang
diemban oleh pemerintah dan PM Sjahrir. Hal itulah yang memunculkan rangkaian
konflik yang mengarungi sejarah Indonesia pasca Kemerdekaan.
1.5 Metode
Penelitian
Dalam proses
pengerjaan penelitian ini, kami melakukan tahapan-tahapan dalam metode sejarah,
tahap pertama adalah tahap heuristik, yaitu pencarian sumber yang kami lakukan
dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Sumber-sumber yang kami temukan
adalah berupa buku-buku bacaan yang kami dapatkan dari perpustakaan pusat UI,
Majalah Tempo, yang berkaitan dengan tema permasalahan dalam makalah.
Setelah
melakukan pencarian dan pengumpulan data ditahap kedua ada tahap kritik, di
tahap ini kami melakukan pengujian dan penilaian dari sumber-sumber yang kami
temukan, sehingga ada beberapa buku yang pada awalnya kami pikir dapat
dijadikan sumber, ternyata setelah kami teliti, tidak mendukung tema makalah.
Akhirnya kami tidak menggunakan buku-buku itu dan mencari buku-buku lain yang mendukung
dalam penulisan makalah yang kemudian kami uji nilai keabsahan dan isi yang
mendukung tema permasalahan makalah.
Selanjutnya kami melakukan tahap ketiga,
yaitu tahap interpretasi, setelah kami kritisi sumber-sumber buku yang kami
kumpulkan, kami membaca buku-buku yang kami jadikan sumber tersebut dengan
berbagi bahan bacaan untuk menyusun makalah ini. Setelah membaca buku tersebut,
masing-masing dari kami memberikan review
tentang buku yang dibaca masing-masing, kemudian kami mengambil hal-hal penting
dan mendukung tema untuk disesuaikan dengan judul makalah.
Terakhir
adalah tahap historiografi. Pada tahap ini, kami merangkainya dalam bentuk
tulisan dari masing-masing buku dan majalah yang dapat digunakan untuk makalah
ini. Semua informasi yang kami dapatkan dalam buku-buku tersebut, dapat
mendukung judul untuk makalah yang akan kami bahas, kami olah kembali dan
menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sistematis.
BAB II
ISI
2.1 Penculikan PM
Sjahrir
Sekitar pada
bulan Juni 1946 PM Sjahrir beserta rombongannya melakukan kunjungan ke Jawa
Timur, dan menginap di Solo selama satu malam. Kemudian pada hari berikutnya
hendak melakukan perjalanan ke Yogyakarta, untuk siding kabinet yang membahas
masalah usul balasan dan dan masalah kabinet koalisi.
Penculikan
Sjahrir digalang oleh Mayor AK Yusuf, ia mengajak Jendral Sutarto yang kemudian
dengan cepat menerima ajakan Yusuf, karena satu sisi Yusuf telah membawa
perintah tertulis penangkapan PM Sjahrir dari koleganya yaitu Komandan
Sudarsono.
Kemudian Sutarto meminta para agen kelompoknya menandatangani
perintah penangkapan atas Sjahrir dan kelompoknya, seperti kawannya Sastrolawe,
Komandan Batalyon di Tawangmangu, PT Solo dan lain sebagainya. Sehingga para
pengawal Sjahrir yakin jika tindakan rombongan Yusuf ini tidak melanggar hukum.
Sementara itu Domopranoto yang kala itu menjabat sebagai kepala polisi Solo
melontarkan pertanyaan kepada Sutarto, apakah Soedirman dan Soekarno mengetahui
tentang hal ini, Domopranoto juga menasehati mereka agar menghadap dulu kepada
atasan mereka. Kelompok Sutarto ini mejawab apakah kamu tidak percaya kepada
kami, ini adalah sebuah pekerjaan resmi. Akhirnya penangkapan ini mendapatkan
persetujuan dari Domopranoto.
Dengan bekal
surat tersebut, ternyata penculikan terhadap PM Sjahrir merupakan hal yang
gampang,. Pada jam satu malam di tempat Sjahrir bermalam, Yusuf, Sastrolawe dan
para Tentara dari Tawangmangu datang, Polisi yang mengawal PM Sjahrir tidak
mampu melawan karena melihat surat perintah penangkapan yang telah mereka
perlihatkan.
Yusuf dan
kelompoknya langsung masuk ke kamar tidur Sjahrir. Sastrolawe yang pertama
masuk dan berkata “Ada saudara dari Yogya yang ingin menyapa”, lalu Yusuf maju
dan serentak Sjahrir bertanya “Ada apa?
Dan Yusuf menjawab, “Saudara mesti saya tangkap , sambil diperlihatkan
surat perintah”, kemudia Sjahrir menjawab “bagaimana ini, saya masih dibutuhkan
oleh rakyat”. Namun akhirnya Sjahrir dibawa tanpa tekanan, paksaan dan
kekerasan sedikitpun. Sjahrir dibawa layaknya seseorang yang tidak diculik, dia
dikawal dengan sopan.
Sjahrir dibawa
beserta rombongannya, anatara lain para menteri seperti Darmawan Mangunkusumo,
Sudarsono dan lain sebagainya, Mereka semua menginap di Hotel Merdeka. Pada
saat proses penculikan Sjahrir para menteri ini mendengar peristiwa tersebut,
namun sayangnya hal itu sudah terlambat, Hotel Merdeka sudah dikepung.
Namun, ada dua orang yang lolos sewaktu penangkapan, yaitu
Sudarsono yang lolos dengan memanjat tembok dan Subadio dengan menggunakan
sebatang bambu berhasil menyebrangi kali yang terdapat dibelakang Hotel
tersebut.
Pada beberapa hari setelah penculikan berhasil, Sjahrir
ditempatkan di Paras Solo, dan dimasukan ke dalam Bungalo Susuhunan, yang
dikawal oleh Wakil Komandan Batalyon Soebagyo. Kemudian Yusuf dan kartono
mengatakan kepada Iwa dan Yamin bahwa Sjahrir sudah disingkirkan. Akhirnya
kemudian Yusuf menceritakan semua ini kepada hampir seluruh kelompok Persatuan Perjuangan,
tak terkecuali Tan Malaka.
Setelah Yusuf menceritakan semuanya, akhirnya semua harus ikut
berembug berfikir dan mempertimbangkan berbagai akibat dari peristiwa tersebut,
yang dianggap terlalu dini. Dalam pembicaraan di Solo ini ada juga rasa menyesal
dari para agen, seperti Tan Malaka dan Yamin yang tak tahu menahu masalah
penculikan Sjahrir.
Pada tanggal 28 Juni 1946 pukul sepuluh pagi, PM Sjahrir
sebenarnya ditunggu untuk menghadiri siding kabinet, namun ternyata ia tidak
lekas muncul juga. Karena tidak ada berita dari Solo mengenai ketidak hadiran
Sjahrir, maka seketika berita penculikan Sjahrir merebak luas.
Dalam desas desus
berita di Yogya, mengabarkan bahwa dalang dari penculikan Sjahrir adalah
komplotan Tan Malaka. Berita ini mucul di Yogya karena perintah dari Sudarsono
dan Subadio yang lolos dari penculikan. Namun, keterangan yang diceritakan oleh
kedua orang ini tidak ada kejelasan mengenai siapa pelaku dan latar
belakangnya.
Ketika berita ini
merebak keseluruh penjuru tanah air, para tokoh-tokoh besar republik merasa
khawatir akan akibat-akibat yang merugukan dalam hal hubungan Internasional.
Sehingga Amir meminta Sukarno untuk membantu mencari jejak keberadaan Sjahrir
melalui radio. Namun masukan ini agaknya terlalalu awal.
Pada tanggal 28
Juni kabinet juga mengambil keputusan segera memberlakukan Keadaan Darurat
Perang untuk seluruh Indonesia. Keputusan ini ditandatangani oleh Sukarno dan Amir, atas nama Dewan
Menteri. Ini merupakan sebuah keputusan yang memiliki arti simbolis, yang
mencerminkan suasana krisis dan ketegangan, tetapi pemerintah juga menginginkan
agar dalam situasi seperti ini persatuan tetap dijaga.
2.2 Manuver Sekitar
Penculikan
Dalam priode ini
nampaknya peran yang masih menjadi misteri adalah Sudarsono yang merupakan
atasan dari Yusuf, namun merupakan orang yang termasuk dalam kelompok PM
Sjahrir. Kanapi seseorang yang disisihkan oleh Sudarsono karena kepentingan
yang dilakukan oleh Yusuf menceritakan peristiwa tersebut kepada Sudarsono,
namun Sudarsono hanya terlihat tersenyum mendengar cerita dari Kanapi. Kesannya
Sudarsono sekurang-kurangnya telah mengetahui rencana penculikan tersebut.
Berita tentang
hilangnya PM Sjahrir sudah semakin meluas, bahaya timbulnya aksi tak terkendali
dari berbagai kalangan juga semakin besar. Sehingga pemerintah harus segera
mengambil keputusan, akhirnya Presiden Sukarno pada tengah malam menandatangani
Maklumat No. 1 tahun 1946.
“Berhubung dengan kejadian-kejadian dalam
negeri yang membahayakan keselamatan Negara dan perjuangan kemerdekaan kita,
maka kami Presiden republik Indonesia dengan persetujuan Kabinet dalam
sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946 mengambil kekuasaan pemerintah sepenuhnya
untuk sementara waktu sampai keadaan biasa yang memungkinkan kabinet dan
lain-lain badan resmi bekerja sebagaimana mestinya”
Kelompok Persatuan
Perjuangan tersenyum mendengar maklumat ini, mereka berharap Sukarno nantinya
akan bersimpati kepada haluan politik mereka. Para rakyat pun seluruhnya
memberikan kepercayaan kepada Sukarno untuk memegang kembali seluruh kekuasaan
negeri, karena rakyat menganggap kiprah para kabinet kurag begitu jelas.
2.3 Sukarno Bertindak
Hari sabtu siang
Sukarno memiliki waktu untuk mengadakan suatu Konferensi pers. Dalam kesempatan
ini ia menjelaskan tentang keputusan untuk mengambilalih seluruh kekuasaan di
tangannya. Karena alasan situasi yang sedang kritis.
Dalam konferensi
ini ia menegaskan juga bahwa tuntutanya masih tetap kemerdekaan seratus persen
untuk seluruh Indonesia. Ia memberi penjelasan mengenai usul balasan bersama
Amir, yang mencantumkan pengakuan kemerdekaan seratus persen masih menjadi
tuntutan.
Sukarno meminta
agar para tentara bekerja dan memenuhi tugasnya masing-masing. Seruan yang
menarik ini tentunya merujuk pada masalah penculikan PM Sjahrir, yang dalam
konferensi pers ini sedikitpun tidak disebut.
Sementara
usaha-usah pencarian PM Sjahrir yang dilakukan oleh instansi-instansi
pemerintah ternyata masih tetap tanpa hasil. Setelah itu tutup mulut pun terus
berjalan sembari mengharapkan penyelesaian dengan cara diam-diam. Setelah
selang beberapa waktu, dikeluarka pernyataan resmi yang ditandatangani oleh
Sukarno.
“pada tengah malam tanggal 27 menjelang 28
Juni PM Sjahrir seropbot oleh satu segerombolan dari tempat penginapannya di
Solo. Beserta para perdana menteri lainnya. Ini adalah satu perbuatan yang
jahat sekali, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh pemerintah republik
Indonesia. Perbuatan itu nyata ujungnya untuk melemahkan kekuatan pemerintah
kita dimata dunia Internasional, sehingga Belanda dapat menarik keuntungan dari
pada itu dalam perundingan tentang kemerdekaan Indonesia. Dalam masa yang
sangat genting ini, dimana banyak diantara kita yang kena perangkap Nica, untuk
melemahkan kita dari dalam, maka diharap kepada segala rakyat yang berpikir
sehat supaya berdiri bulat dibelakang pemerintah, dan berusaha supaya Perdana
Menteri Sutan Sjahrir dan lainnya itu dibebaskan”.
Demikian isi
pernyataan tersebut jelas sekali, ruang untuk kompromi sudah tertutup. Para
pelaku digolongkan sebagai kaki tangan
NICA, lebih busuk dari itu tidak bisa lagi. Dan Sukarno yang menandatangani
perintah itu sudah se-ia se-kata mengenai penculikan Sjahrir.
Hal inipun
membuat genting para rombongan yang memiliki rencana dan telah menahan Sjahrir.
Sutarto dengan perasaan yang tidak senang menasihati dan memberi peringatan
keras terhadap Yusuf.
Tidak jelas,
apakah sesudah, sebelum, selagi rapat di Magelang, dilaporkan kepada Amir
tentang penahan Sjahrir di Paras, dan tentang adanya surat perintah Sudarsono
yang mengawali penculikan. Turunan surat perintah itu juga disampaikan kepada
Amir.
Dalam aksi
laporan ini diduga oleh Sutarto yang sedang kalang kabut dengan ke
khawatirannya, selain memberi informasi tersebut kepada Sukarno, ada lagi yang
bisa ia berikan. Ia bisa mengurus kembalinya Sjahrir dengan selamat. Dan
sebagai timbal baliknya peran aktif Sutarto dalam penculikan tersebut
dilupakan.
Setelah Sukarno,
Hatta, Amir yang rapat bersama Sudirman di Magelang, tiga pemimpin ini
menyerahkan surat turunan perintah Sudarsono kepada yusuf diserahkan ke
Sudirman. Dan Sudirman menerima perintah untuk mengatur pembebasan Sjahrir.
Namun beberapa
kali Sudirman sebenarnya melakukan teguhan terhadap kasus ini, seperti demi
kepentingan terselesaikannya masalah dengan cepat, pemerintah harus menghilangkan
kesan bahwa penculikan merupakan persoalan penduduk Solo.
Setelah itu pada
hari sabtu pagai Sudirman berangkat ke Solo, dan Sudirman juga mengundang
banyak aktivis-aktivis revolusi termasuk Sudarsono, namun tanpa memberi tahu
ada hal apa yang akan dibicaarakan.
Di Rumah Sudirman
terjadilah sebuah perkumpulan, Sudirman membagika kertas surat perintah dari
Sukarno mengenai masalah Sjahrir. Ia juga berpidato dan menjelaskan panjang
lebar mengenai permasalahan yang sedang melanda negerinya.
Ia mengatakan
bahwa penculikan itu sudah sering terjadi, itu perbuatan dari suatu kelompok
kecil yang memberikan akibat yang serius. Penculikan Sjahrir dan kawan-kawannya
menghadapkan Negara pada keadaan bahaya. Oleh karena itu tidak bisa dan tidak
boleh dibiarkan saja. Ini merupakan perbuatan musuh musuh dalam selimut.
Sebuah Negara
yang Perdana Menterinya diculik akan kehilangan mukanya, maka pantaslah jika
Belanda berkata “lihat bangsa Indonesia belum matang untuk merdeka”. Ada dugaan
kelompok yang melakukan penculikan ini adalah kelompok yang merasa dirinya
orang kiri yang lebih dari kiri, lebih radikal daripada radikal. Tanpa disadari
mereka melakukan kerjasama dengan koloni ke lima dari NICA.
Barangkali mereka
mengira dengan perbuatannya Republik akan diperkuat, artinya dilihat dari
subyektif niat mereka memiliki arti yang baik. Namun dari segi objektif aksi
mereka membawa akibat yang buruk bagi Negara. Posisi Negara semakin lemah,
jalan bagi musuh untuk memasuki Negara kita semakin terbuka lebar-lebar.
2.4 Pembebasan PM
Sjahrir
Pada pukul empat
pagi hari senin tanggal 1 Juli dengan tak disangka-sangka Sjahrir muncul di
Istana Presiden. Sukarno memeluk Sjahrir, istrinya ibu Fatmawati membuatkan
kopi untuk para pengawal Sjahrir. Di depan mereka Sukarno berkata “biar dunia
Internasional tahu, bahwa Republik Indonesia masih mempunyai pemuda. Pemuda
yang memiliki tanggung jawab tak hanya digaris depan, namun juga dibelakang.
Republik masih mempunyai seorang perdana menteri.
Pembebasan
Sjahrir pun sudah gemar dibicarakan di koran-koran, Sjahrir juga berbicara di
radio sedikit mengenai pengalamannya dalam peristiwa penculikan, bahwa
kekacauan yang terjadi karena penculikanya hanyalah menguntungkan kekuatan yang
berbahaya dan pihak Avonturier yang hendak melumpuhkan perjuangan.
Akhirnya surat
perintah penangkapan terhadap kelompok yang telah menculik Sjahrir
ditandatangani dan sederet nama yang diduga terlibat sebagai tersangka sudah
tercatat, diantaranya Sudarsono, Yusuf dan lain sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN
Pertentangan
antara Tan Malaka dan kelompoknya dengan pemerintah dan Sutan Sjahrir sebagai
Perdana Menteri makin memuncak, dan mengakibatkan diculiknya PM Sjahrir dan
para menteri-menteri yang berada di Solo
pada 27 Juni 1946, yang diculik oleh Mayor AK Yusuf dan komplotannya.
Akibat
dari peristiwa tersebut begitu jelas berdampak pada kondisi yang dialami oleh
Negara republic Indonesia, pantas jika Belanda berkata “lihat Indonesia belum
siap merdeka”. Diduga agen penculikan
Sjahrir ialah orang-orang yang melakukan kerjasama dengan agen koloni ke lima
NICA.
Akibat
peristiwa tersebut maka kekuasaan Negara diambilalih oleh Presiden berdasarkan
maklumat No. 1 tahun 1946. Namun Presiden menekankan dia tidak ingin bertindak
dictator, dia melakukan suatu kebijakan pasti berdasarkan Undang-Undang Dasar.
Setelah
beberapa waktu berselang Presiden juga menyerukan melalui perintahnya agar PM Sjahrir segera dilepaskan. Dan
akhirnya pada tanggal 1 Juli PM Sjahrir mengejutkan Sukarno di Istana Merdeka.
Ia tiba-tiba muncul bersama para pengawal yang mengantarnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Poeze.
Hary A.2009 Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan
Revolusi Indonesia Jilid I dan II. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
2. Mrazek.
Rudolf. 1996. Sjahrir: Politik dan
Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
3. Malaka.
Tan. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Depok:
Diandra Pustaka Indonesia.
4. Anwar.
R. Rosihan. 2012. Sutan Sjahrir:
Demokrasi Sejati, Pejuang Kemanusiaan. Jakarta: Kompas.
5. O.E.
Engelen, Aboe Bakar Loebis dkk. 1996. Lahirya
Satu Bangsa dan Negara. Jakarta UI Pers
6. Dekker
Nyoman. 1989. Sejarah Revolusi Nasional.
Jakarta: Balai Pustaka
7. Tempo.
2008. Edisi Khusus Hari Kemerdekaan:
Bapak Republik yang dilupakan: Tan Malaka 1897-1949.