"Pada satu ketika ada seorang lelaki berwajah buruk rupa, tidak memiliki kemampuan untuk berjalan. Menikah dengan seorang perempuan cantik nan sholehah. Orang tua sang perempuan tentu tidak secara gampang merestui hubungan mereka. Namun, perempuan ini terus berdoa agar Allah membalikan hati keluarganya untuk merestui pernikahannya. Akhirnya merek menikah. Seringkali selalu memgucap syukur kepada Allah, ketika melihat suaminya. Suaminya selalu bertanya, mengapa kamu bersyukur padahal suami serba kekurangan. Istrinya hanya ternsenyum, mas aku bukan orang yang pandai bersabar, emosiku 99 dan akalku hanya 1. Sementara engkau mempuanya 99 cara untuk bersabar dengan kondisimu sekarang, bersabar menghadapi emosiku setiap membeludak, dan selalu bersabar mengingatkanku utk beribadah kepada Allah."
Dulu kita tentu selalu ingat, "orang jelek itu biasanya dapet yang cantik, orang cantik itu biasanya dapet yang jelek." Hehe miris sekali. Namun ternyata guyonan ini merupakan suatu kaedah dimana orang melihat kesolehahan seorang perempuan dan kesholehan seorang lelaki.
Ada satu keterangan yang mengatakan bahwa, ada dua keimanan yang harus dimiliki pasangan suami istri, jika mereka ingin bahagia dunia dan akhirat:
Pertama, iman dalam artian sabar yang dimiliki suami
Kedua, iman dalam artian syukur yang dimiliki oleh istri.
Bagaimana tidak indah, ketika istri terus bersyukur atas apa yang dimiliki suaminya. Tidak pernah menuntut agar suaminya merubah fisiknya agar lebih tampan. Agar lebih enak dipandang. Istri sholehah adalah istri yang pandai bersyukur. Bukan menuntut apa yang bisa membuat suaminya kufur nikmat.
Bagaimana tidak indah ketika suami terus bersabar menghadapi apa yang dilandanya dalam keluarga. Bersabar karena menjadi pemimpin keluarga itu tidak mudah. Bersabar menghadapi emosi istri. Bersabar menuruti keinginan istri. Bukan justru terjebak dalam emosi hingga membentak, dan menganiaya istri. Ingatlah wahai peria. Perempuan itu adalah tonggak lahirnya negara, tonggak lahirnya peradaban. Karena ia kita ada, karena ia kita dapat membangun negara. Tidak terbayang jika tidak ada perempuan, akan seperti apa negara kita.
Jika fenomena di atas, dengan kekurangan dan kelebihan justru menjadi kebahagiaan.
Lebih bisa lagi jika ternyata kita diberikan kelebihan dan kelebihan yang menyatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar