Rabu, 14 Desember 2016

Hijab dan Tak Berhijab

"Min, ternyata mendingan saya yah dibanding dia yang berhijab syar'i tapi kelakuan kayak gitu."

Seringkali cover menjadi sebuah simbol penilaian terhadap seseorang.
Ketika saya bertanya tentang pemilihan presiden, ibu2 dan masyarakat awam di desa2 mengatakan saya akan memilih Prabowo. Lho kenapa, karena Prabowo lebih kelihatan keren.
Itu membuktikan bahwa penilaian seseorang yang lebih sering melihat cover sebagai Faktor utama. Karenanya penting bagi seorang muslimah untuk berpakaian selayaknya muslimah.
Tapi fenomena yang sering ditemui adalah kekecewaan seorang yang 'tidak berpakaian muslimah' mengatakan "mendingan saya yang berpakaian cumpang camping tapi kelakuannya biasa aja. Dari pada berpakaian so alim tapi ternyata dalemnya hancur."
Lalu yang memakai pakaian muslimah mengatakan "gak ada kaitannya pakaian dengan kelakuan. Kalo kelakuan kembali lagi ke orangnya."

Sampai kapan kita hanya mendakwahi diri sendiri tanpa mengajak orang lain dalam kebaikan dengan cara membuktikan apa yang kita lakukan itu baik.
Sampai kapan kita membiarkan muslimah yang tidak menutup auratnya.
Jika para muslimah terus mencerminkan ketidak muslimahannya, rasanya makin banyak orang yang ingin berhijab, mengurungkan niatnya. Meskipun ini bisa terkait hidayah.

Bagi keduanya. Yuk cukupkan berdebat masalah itu. Toh yang berhijab gak mau hanya dilihat covernya saja. Dan begitupun yang tidak berhijab.
Temen2 yang berhijab setidaknya telah melaksanakan kewajibannya dalam hal fisik.
Pun jika temen2 yang tidak berhijab tapi menjaga tatak kelakuannya. Ia telah menjalankan kewajibannya dalam hal sifat.

Bayangkan kalo keduanya bisa bertaut. Betapa indahnya, sosok muslimah yang covernya indah kemudian ditautkan sifat yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar