Rabu, 14 Desember 2016

"Pernikahan yang Menguatkan"


"Pada satu ketika ada seorang lelaki berwajah buruk rupa, tidak memiliki kemampuan untuk berjalan. Menikah dengan seorang perempuan cantik nan sholehah. Orang tua sang perempuan tentu tidak secara gampang merestui hubungan mereka. Namun, perempuan ini terus berdoa agar Allah membalikan hati keluarganya untuk merestui pernikahannya. Akhirnya merek menikah. Seringkali selalu memgucap syukur kepada Allah, ketika melihat suaminya. Suaminya selalu bertanya, mengapa kamu bersyukur padahal suami serba kekurangan. Istrinya hanya ternsenyum, mas aku bukan orang yang pandai bersabar, emosiku 99 dan akalku hanya 1. Sementara engkau mempuanya 99 cara untuk bersabar dengan kondisimu sekarang, bersabar menghadapi emosiku setiap membeludak, dan selalu bersabar mengingatkanku utk beribadah kepada Allah."

Dulu kita tentu selalu ingat, "orang jelek itu biasanya dapet yang cantik, orang cantik itu biasanya dapet yang jelek." Hehe miris sekali. Namun ternyata guyonan ini merupakan suatu kaedah dimana orang melihat kesolehahan seorang perempuan dan kesholehan seorang lelaki.

Ada satu keterangan yang mengatakan bahwa, ada dua keimanan yang harus dimiliki pasangan suami istri, jika mereka ingin bahagia dunia dan akhirat:
Pertama, iman dalam artian sabar yang dimiliki suami
Kedua, iman dalam artian syukur yang dimiliki oleh istri.

Bagaimana tidak indah, ketika istri terus bersyukur atas apa yang dimiliki suaminya. Tidak pernah menuntut agar suaminya merubah fisiknya agar lebih tampan. Agar lebih enak dipandang. Istri sholehah adalah istri yang pandai bersyukur. Bukan menuntut apa yang bisa membuat suaminya kufur nikmat.

Bagaimana tidak indah ketika suami terus bersabar menghadapi apa yang dilandanya dalam keluarga. Bersabar karena menjadi pemimpin keluarga itu tidak mudah. Bersabar menghadapi emosi istri. Bersabar menuruti keinginan istri. Bukan justru terjebak dalam emosi hingga membentak, dan menganiaya istri. Ingatlah wahai peria. Perempuan itu adalah tonggak lahirnya negara, tonggak lahirnya peradaban. Karena ia kita ada, karena ia kita dapat membangun negara. Tidak terbayang jika tidak ada perempuan, akan seperti apa negara kita.

Jika fenomena di atas, dengan kekurangan dan kelebihan justru menjadi kebahagiaan.
Lebih bisa lagi jika ternyata kita diberikan kelebihan dan kelebihan yang menyatu.

Hijab dan Tak Berhijab

"Min, ternyata mendingan saya yah dibanding dia yang berhijab syar'i tapi kelakuan kayak gitu."

Seringkali cover menjadi sebuah simbol penilaian terhadap seseorang.
Ketika saya bertanya tentang pemilihan presiden, ibu2 dan masyarakat awam di desa2 mengatakan saya akan memilih Prabowo. Lho kenapa, karena Prabowo lebih kelihatan keren.
Itu membuktikan bahwa penilaian seseorang yang lebih sering melihat cover sebagai Faktor utama. Karenanya penting bagi seorang muslimah untuk berpakaian selayaknya muslimah.
Tapi fenomena yang sering ditemui adalah kekecewaan seorang yang 'tidak berpakaian muslimah' mengatakan "mendingan saya yang berpakaian cumpang camping tapi kelakuannya biasa aja. Dari pada berpakaian so alim tapi ternyata dalemnya hancur."
Lalu yang memakai pakaian muslimah mengatakan "gak ada kaitannya pakaian dengan kelakuan. Kalo kelakuan kembali lagi ke orangnya."

Sampai kapan kita hanya mendakwahi diri sendiri tanpa mengajak orang lain dalam kebaikan dengan cara membuktikan apa yang kita lakukan itu baik.
Sampai kapan kita membiarkan muslimah yang tidak menutup auratnya.
Jika para muslimah terus mencerminkan ketidak muslimahannya, rasanya makin banyak orang yang ingin berhijab, mengurungkan niatnya. Meskipun ini bisa terkait hidayah.

Bagi keduanya. Yuk cukupkan berdebat masalah itu. Toh yang berhijab gak mau hanya dilihat covernya saja. Dan begitupun yang tidak berhijab.
Temen2 yang berhijab setidaknya telah melaksanakan kewajibannya dalam hal fisik.
Pun jika temen2 yang tidak berhijab tapi menjaga tatak kelakuannya. Ia telah menjalankan kewajibannya dalam hal sifat.

Bayangkan kalo keduanya bisa bertaut. Betapa indahnya, sosok muslimah yang covernya indah kemudian ditautkan sifat yang indah.

Kamis, 08 Desember 2016

'Rumah Manja' untuk Keluarga

“Hidup adalah sebuah perjalanan. Ketika kita lelah dalam berjalan maka kita perlu sebuah kenyamanan untuk bercengkrama bersama keluarga.”


www.CitraMaja.com

Dalam hidup ini, semua orang tentu setuju bahwa tingkat kenyamanan tidak hanya diukur dengan hal yang bersifat imateril atau batin. Namun, juga didukung dengan fasilitas materil atau fisik yang membuat hidup terasa lebih nyaman. Hal itu dapat terpenuhi dengan apa yang kita pakai, apa yang kita kerjakan, terlebih apa yang kita tempati. Oleh karena pada dasarnya, aktivitas kita di luar sangat dipengaruhi oleh kondisi di tempat yang kita tinggali. Seseorang dengan keluarga yang menempati sebuah rumah tidak nyaman untuk istirahatnya, tentu akan berbeda psikologisnya dengan orang yang memiliki ruamah nyaman untuk hidupnya, karena keluarganya di rumah lebih tentram dan tidak begitu banyak kemungkinan permasalahan kenyamanan dalam hal fisik yang terjadi.

http://tokospringbedmurah.com

Berdasarkan kenyataan tersebut, sebuah investasi yang wajib dilakukan oleh kita adalah merealisasikan tempat tinggal senyaman mungkin untuk keluarga kita. Tentu hal tersebut harus kita realisasikan secepatnya, mengingat grafik harga rumah terus meningkat. Kita harus membuat strategi yang matang untuk dapat meninggali sebuah tempat yang nyaman. Terlebih jika kita bukanlah konglomerat yang memiliki kekayaan melimpah.

Ketika kondisi kita demikian, salah satu cara atau strategi yang realistis untuk kita lakukan, adalah mencari informasi tempat tinggal dengan kualitas yang baik, namun harga ‘memanjakan kita.’ Kita tidak boleh kalah dengan kondisi ekonomi yang tidak memanjakan kita, tetapi kita jadikan itu motivasi agar kita dapat berasa menjadi orang kaya raya yang menempati rumah nyaman, meskipun dengan budget rendah. Sehingga dua faktor manja yang menjadi idaman manusia dapat terpenuhi, yakni manja karena harga terjangkau dan manja karena hasil yang memuaskan. Hal itu sama dengan konsep ekonomi yang paten kita selalu gunakan, modal sekecil-kecilnya dengan untung yang sebesar-besarnya.

Lalu, dimana untuk mendapatkan hal tersebut?

Mungkin banyak di antara kita yang belum mengetahui tentang kenyamanan yang ditawarkan bumi Banten. Bumi ini didukung dengan banyak fasilitas alam yang sangat menarik. Ketika kita ingin hidup nyaman tetapi tidak ingin hidup di wilayah ibu kota, maka hidup di pinggiran ibu kota lah kita dapat mencarinya. Jangan pernah langsung percaya dengan opini yang menggambarkan bahwa wilayah pinggiran ibu kota adalah tempat yang kumuh dan tidak nyaman. Hal itu dapat kita analogikan dengan opini yang mengatakan bahwa wilayah jabodetabek adalah wilayah yang diisi oleh kota-kota maju yang besar, padahal faktanya banyak sekali pemukiman kumuh dan ketertinggalan di sana.

http://www.ciputra.biz/

Saat ini, lahir sebuah terobosan untuk menawarkan produk yang nyaman agar dinikmati oleh anda. Tempat ini berada di samping ibu kota dan sangat mudah untuk mobile akses kemanapun yang anda inginkan. Ia adalah “Rumah Maja.” Sebuah kawasan perumahan di daerah Maja, Lebak, Banten. Apa saja keuntungan ketika anda melakukan investasi untuk tempat tinggal ini? anda akan mendapatkan berbagai jaminan bahwa anda akan‘dimanjakan.’ Pertama, anda akan dimanjakan oleh lokasi. Bagi anda yang bekerja di ibu kota, anda dapat menggunakan transportasi umum kereta api atau juga dengan mobil pribadi, karena lokasi tidak begitu jauh dengan ibu kota. Kedua, alam yang nyaman. Jika anda berada di Maja, anda akan dimanjakan dengan wilayah yang masih hijau dan asri kehidupan tradisional. Ketiga, murah tetapi meriah. Inilah alasan kuat mengapa anda harus berinvestasi menempati Rumah Maja, karena ia akan memanjakan anda dengan harga murah tetapi fasilitas meriah.


Demikianlah apa yang harus anda lakukan untuk hidup nyaman dengan fasilitas aman. Jangan pernah ragu untuk memulai sebuah investasi yang menjamin kehidupan, karena itu akan berdampak pada jangka panjang atau masa depan kita. Segera berinvestasi untuk hidup anda di Rumah Maja, Lebak, Banten.

Magic of Debus: Ilmu Hitam yang Direstui Allah?

Debus adalah kesenian tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Banten. Sebagai salah satu ciri khas budaya Banten, debus kemudian dikenal secara nasional bahkan mancanegara. Meskipun popularitasnya telah menembus batas internasional, kemunculan kesenian tersebut dianggap belum jelas karena sumber-sumber tertulis yang membuktikan asal-usul kesenian ini belum ditemukan hingga saat ini. Sejauh ini, berbagai teori mengenai kemunculannya didapat hanya melalui tradisi lisan.
Menurut tradisi lisan, debus dikembangkan untuk menarik masyarakat Banten agar ingin masuk dan memeluk agama Islam. Hal ini terlihat dari berbagai ritual yang dilakukan oleh pemain debus berupa dzikir-dzikir dan berbagai amalan yang dilakukan oleh orang-orang Islam. Hal-hal tersebut kemudian memperkuat teori bahwa fungsi debus pada awal kemunculannya adalah untuk syiar Islam. (Karomah Atu, 2004: 50)
Pada teori tersebut, digambarkan bahwa debus belum memiliki identitas sebagai suatu kelompok seni seperti sekarang ini. Debus hanya dikenal sebagai permainan kekebalan tubuh yang berkaitan erat dengan berbagai unsur yang diyakini oleh masyarakat setempat, yaitu sebagai bentuk keyakinan pada agama Islam yang kemudian berkembang dalam ilmu tarekat.
Seiring perjalanan waktu, debus berubah dari alat syiar Islam menjadi identitas budaya masyarakat banten. Pertanyaannya, apakah kekebalan tubuh yang dimiliki oleh para pemain debus berasal dari ilmu hitam atau ilmu putih?
Jalan Menuju Magic
Pada aktivitas kesenian debus, ada satu hal yang dianggap sebagai jalan menuju kekebalan, yaitu Tarekat. Tarekat berasal dari kata thariq (bahasa arab) yang berarti jalan. Kata tarekat sendiri sebenarnya mengacu pada sistem latihan meditasi maupun amalan seperti dzikir, wirid, puasa, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan guru sufi dan organisasi yang tumbuh di seputar metode sufi yang khas ini. Tarekat ini kemudian berkembang di wilayah Indonesia, termasuk wilayah Banten. (Atjeh Abubakar, 1993: 64)
Pada perkembangannya, tarekat memiliki berbagai jenis, seperti tarekat qadariyahrifaiyah,naqsabandiyah, dan lain sebagainya. Di Banten, tarekat yang berhubungan erat dengan kekebalan atau kemudian yang kita kenal dengan debus adalah tareqat qadariyah dan rifaiyah. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai hal tersebut.
Tarekat qadariyah menonjolkan 'budidaya' ritual yang dijalankan oleh pendirinya, yaitu Abdul Qadir Jailani. Sementara itu, tarekat rifaiyah banyak disinggung dalam tulisan-tulisan tentang tarekat, karena keanehan dari cara berdzikirnya yang memperlihatkan kesaktian dan kekebalan tubuh terhadap segala benda tajam.
Dalam perkembangannya, debus di berbagai daerah cukup berkaitan dengan tarekat tersebut, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Maluku. Namun, kaitan itu tidak ditemukan di daerah Banten. Tarekat yang dianut dalam kelompok-kelompok sufi tersebut kemudian memengaruhi berbagai ritual yang dianut dalam pertunjukan kesenian debus, seperti halnya di daerah Banten. (Muzaki Makmun, 1990: 32)
Apakah Ritual Permainan Debus Adalah Ilmu Hitam?
Sebelum memutuskan apakah ritual pada debus menggunakan ilmu hitam atau tidak, penting untuk memahami ritual itu sendiri. Pada debus, dikenal dua macam ritual. Pertama, ritual debus. Kedua, ritual permainan debus. Ritual debus merupakan suatu proses upacara yang dilakukan oleh seseorang yang berniat menjadi anggota debus. Sementara itu, ritual permainan debus merupakan suatu proses upacara permainan debus itu sendiri.
Upacara itu dilakukan untuk kelancaran pertunjukan permainan debus tersebut yang bernafaskan syiar Islam dalam ritual keagamaan. Masyarakat Banten menganggap ritual ini adalah suatu hal yang biasa, bahkan secara tidak langsung menganggap ritual ini sebagai ibadah kepada Allah. Karena dianggap ibadah, masyarakat Banten tidak mengkategorikan ritual ini sebagai ilmu hitam.
Ritual debus yang merupakan upacara pelantikan anggota baru, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui, yaitu:
  1. Persiapan Ritual, yaitu tahap wawancara calon anggota debus yang dilakukan oleh pemimpin debus;
  2. Pelaksanaan Ritual, yaitu proses inisiasi melalui pemberian amalan-amalan berupa puasa dan dzikir;
  3. Ritual Pengujian dan Hasil, yaitu tahap pengujian hasil dari pelaksanaan ritual;
  4. Ritual Pemantapan dan Pembinaan, yaitu tahap pemantapan serta pembinaan spiritual melalui berbagai amalan yang ditingkatkan praktiknya;
  5. Ritual Peningkatan, tahap ini merupakan tahap peningkatan ilmu dan amalan yang diberikan pimpinan debus kepada anggota baru. Setelah anggota baru telah melalui lima tahapan di atas, maka ia telah resmi menjadi anggota debus, dan dapat berperan dalam Ritual Permainan Debus. (Nasution Isman, 1995: 20)
Dapat kita lihat dari uraian di atas bahwa ritual debus ini merupakan satu hal yang sakral dan tidak bisa ditinggalkan. Para pemain debus pun mengikuti kesakralan tersebut. Hal tersebut dapat kita lihat seleksi terhadap calon anggota permainan debus yang dilakukan dengan ketat. Debus ini dapat dikatakan bukan sebuah permainan atau kesenian semata, namun juga sarana pelaksanaan kepercayaan yang dianut, yaitu Islam.
Kategori Ritual yang kedua, yaitu Ritual Permainan Debus. Kegiatan Ritual pada permainan debus ini terbagi dalam tiga tahap, yaitu
  1. Pembukaan;
  2. Dzikir dan Shalawat; dan
  3. Permainan Debus.
Berikut adalah penjelasan mengenai tiga tahapan tersebut.
1. Pembukaan
Pada tahap pembukaan, ketua debus, pemain pemusik dan penonton, telah berada dalam posisinya masing-masing. Ketika pembukaan berlangsung, biasanya ketua debus akan memimpin acara (menjadi semacam MC), berada di tengah-tengah antara pemain dan penonton. Sementara itu, pemain dan pemusik membentuk sebuah lingkaran atau sejajar, berhadapan dengan para penonton. Ketika posisi sudah siap dan sempurna, biasanya dilakukan pembukaan ritual berupa pembacaan wawacan seh, yaitu bacaan tentang sejarah kehidupah Abdul Qadir Jailani. Namun, kini bacaan seh tersebut dilarang karena cukup memakan waktu yang lama sehingga digantikan dengan pengucapan salam sebanyak tiga kali.
2. Dzikir dan Shalawat
Tahap dzikir dan shalawat merupakan tahap wajib yang dilakukan oleh para pemain debus. Dzikir dan shalawat ini dilakukan oleh para pemain, terkecuali ketua. Ketua tidak perlu melakukannya karena pada saat bersamaan, ia memperkenalkan para pemain debus. Biasanya, dzikir dan shalawat ini lambat laun semakin keras dan mengikuti alunan musik yang mengirinya. Ketika dzikir dan shalawat ini terasa semakin meninggi, dapat dikatakan para pemain telah siap, karena suara nyaring dan keras tersebut, dianggap adalah nada magis yang berpengaruh pada tubuh pemain debus.
3. Permainan Debus
Setelah proses dzikir dan shalawat dilewati, tibalah tahap Permainan Debus. Tahap ini dimulai dengan berbagai pertunjukan permainan kekebalan tubuh oleh para pemain secara bergantian. Selama acara pertunjukan berlangsung, dzikir dan shalawat masih terus dibacakan dan diiringi dengan alunan musik, sesekali dengan nada rendah lalu meninggi. Pada saat-saat tertentu, alunan musik dapat berhenti dan kemudian berlanjut kembali. Berbagai ritual tersebut terus berlangsung selama pertunjukan debus dipertontonkan. (Nasution Isman, 1998: 22)
Acara pertunjukan yang diawali oleh berbagai ritual permainan debus biasanya berlangsung secara tidak menentu. Artinya, durasi pertunjukan bergantung kepada seberapa banyak jenis pertunjukan yang ditampilkan. Untuk diketahui, ada berbagai jenis pertunjukan pada permainan debus, yaitu permainan silat, tusuk jarum, mengupas kelapa dengan gigi, dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian permainan debus di atas, kita dapat melihat betapa sistem ritual sangat mempengaruhi semua jenis pertunjukan debus. Karena itu, secara logis dapat dikatakan bahwa permainan debus tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Bila orang yang tidak memiliki keahlian khusus mencoba melakukan debus, ia akan terluka ketika melakukan berbagai atraksi di atas.
Pada akhirnya, debus memang kental dengan unsur magis. Seringkali, masyarakat luar menganggap para pemainnya sebagai penganut ilmu hitam ataupun sihir. Meski begitu, orang Banten sendiri menganggap hal tersebut sebagai hal yang lumrah dalam sistem budaya masyarakat Banten sehingga pantas apabila terdapat anggota masyarakat yang menganggap debus sebagai "magic" yang diberikan Allah atas dzikir kita kepada-Nya.